Bola Kristal Pemusnah Kutukan

Dikisahkan, ada seorang wanita penyihir yang memiliki tiga anak, namun wanita penyihir tua itu tidak mempercayai anaknya sendiri dan berpikir bahwa ketiga anaknya ingin mencuri kekuatannya darinya. Penyihir itu lalu mengubah anak sulungnya menjadi burung elang, yang terpaksa tinggal di pegunungan berbatu, dan sering terlihat terbang melayang di langit. Yang kedua, disihir menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam. Kedua anak ini masih dapat berubah bentuk menjadi manusia, namun hanya selama dua jam setiap hari. Anak yang ketiga, karena takut bahwa ibunya yang penyihir ini akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas, dengan diam-diam pergi meninggalkan ibunya.

Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari yang menanti pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri, mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang mencoba namun gagal, dan sekarang sudah tidak ada orang yang berani mencoba untuk menyelamatkan sang Putri.

Namun, Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana matahari itu dalam waktu yang cukup lama, namun belum berhasil menemukannya. Suatu ketika, dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar dan tersesat. Kemudian dia melihat di kejauhan ada dua raksasa yang melambaikan tangan mereka kepadanya. Saat dia datang kepada raksasa tersebut, mereka berkata bahwa mereka sedang bertengkar mengenai siapa yang berhak memiliki sebuah topi ajaib. Topi itu dapat mengabulkan keinginan, barang siapa yang memakainya dan berharap untuk pergi ke tempat manapun dia mau, maka dalam sekejap dia akan tiba di tempat tersebut.

Si Putra Ketiga lalu berkata agar memberikan topi itu padanya, dan saat dia memanggil kedua raksasa itu, maka mereka harus berlomba lari dan topi ini akan menjadi milik orang yang lebih duluan tiba. Dia lalu memakai topi tersebut lalu berjalan pergi, dan saat berjalan si Putra Ketiga berpikir tentang sang Putri melupakan para raksasa dan berjalan terus. Akhirnya, dia mendesah dalam hatinya dan berandai jika dia bisa berada di istana matahari. Tiba-tiba, si Putra Ketiga kini sudah berdiri di depan pintu gerbang istana matahari.

Dia lalu masuk dan memeriksa semua kamar, saat sampai pada kamar terakhir dia menemukan putri Raja. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah sang Putri. Wajahnya pucat abu-abu penuh keriput, mata rabun, dan berambut merah.

Dia lalu memberinya cermin yang di pegangnya, dan saat si Putra Ketiga melihat bayangan di dalam cermin, dilihatnya wajah yang paling cantik di seluruh penjuru dunia, dan dia juga melihat butiran air mata yang bergulir di pipi sang Putri.

Lalu si Putra Ketiga bertanya bagaimana cara membebaskan sang putri. Sang Putri lalu berkata, siapa yang mendapatkan bola kristal dan mengacungkannya kehadapan penyihir, akan menghancurkan kekuatan sihirnya dengan bola kristal itu dan dia akan kembali ke bentuk sejatinya.

Si Putra Ketiga lalu meminta sang Putri untuk mengatakan, apa saja yang harus dia lakukan agar mendapat bola kristal tersebut. Lalu sang Putri mengatakan, saat menuruni gunung dia akan menemukan seekor banteng liar di dekat sebuah mata air dia harus berkelahi dengan banteng itu. Jika dia berhasil membunuhnya, seekor burung yang berapi-api akan muncul yang membawa sebuah telur yang membara, dan sebuah bola kristal terletak di dalam telur tersebut. Tapi, burung itu tidak akan membiarkan telur tersebut terlepas kecuali dipaksa untuk melakukannya. Lalu saat telur itu jatuh di tanah, semuanya akan menyala dan membakar segala sesuatu yang berada dekat telur tersebut. Dan dengan bola kristal tersebut, semua masalah akan terselesaikan.

Pemuda itu lalu pergi ke mata air, di mana seekor banteng liar mendengus dan berteriak marah padanya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, si Putra Ketiga berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh hewan itu hingga akhirnya mati. Seketika itu juga, seekor burung api muncul dan hendak terbang. Tiba-tiba, kakak si Putra Ketiga yang berubah menjadi elang menukik turun mengejar burung api tersebut sampai ke laut, dan memukul dengan paruhnya sampai sang Burung Api melepaskan telur yang dipegangnya. Telur tersebut tidak jatuh ke laut, tetapi ke sebuah gubuk nelayan yang berdiri di tepi pantai dan gubuk itu langsung terbakar api.

Lalu tiba-tiba muncullah gelombang laut setinggi rumah, menerjang gubuk tersebut hingga seluruh api menjadi padam. Ternyata, saudara lain si Putra Ketiga yang menjadi ikan paus telah mendorong dan menciptakan gelombang laut tersebut. Ketika api itu padam, si Putra Kegita mencari telur itu dan menjadi sangat bahagia saat menemukannya. Kulit telur tersebut menjadi retak dan pecah akibat suhu panas yang tiba-tiba berubah menjadi dingin saat tersiram air, sehingga bola kristal di dalamnya dapat diambil oleh si Putra Ketiga.

Saat pemuda pergi menghadap ke si Penyihir dan mengacungkan bola kristal itu di hadapannya, si Penyihir berkata, bahwa kekuatan sihirnya telah hancur, dan dia yang menjadi raja di istana matahari. Dengan bola kristal itu juga, dia telah mengembalikan bentuk saudara-saudaranya ke bentuk manusia seperti semula.

Si Putra Ketiga pun bergegas menemui sang Putri, dan saat memasuki ruangan dia melihat sang Putri berdiri di sana dengan segala kecantikan dan keindahannya. Tidak lama setelah itu, mereka pun menikah dengan meriah dan hidup bahagia selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *