Kisah Keke Panagian

Dikisahkan, ada sepasang suami istri yang sudah lama belum dikaruniai seorang anak di tengah pernikahan mereka. Mereka adalah Pontohroring dan Mamalauan dari desa Wanua Uner. Puluhan tahun mereka meminta pada Sang Pencipta agar diberi seorang anak, hingga kini usia mereka semakin senja. Walau orang-orang mengatakan mustahil mereka akan memperoleh anak, namun Pontohroring dan Mamalauan tidak pernah putus asa dan berdoa.

Hingga suatu hari, Pontohroring mendengar kabar bahwa di desa sebelah, desa Wiamou, ada sepasang suami istri yang dapat melakukan pengobatan dari ramuan tumbuh-tumbuhan. Suami istri tersebut adalah seorang tabib bernama Mondoringin yang mahir membuat ramuan obat, dan Laloan sang istri yang mampu melakukan pijatan pengobatan.

Suatu hari, pergilah Pontohroring dan Mamalauan ke desa Wiamou menemui Mondoringin dan Laloan. Seakan telah mendapat wangsit dari mimpi, Mondoringin dan Laloan tidak terkejut lagi dengan kedatangan Pontohroring dan Mamalauan. Pontohroring dan Mamalauan menjalankan berbagai proses dan ritual selama berhari-hari di rumah Mondoringin. Hingga waktunya pengobatan tersebut selesai, keduanya kembali ke rumah mereka.

Tidak lama waktu berselang, keajaiban pun terjadi. Mamalauan mengandung seorang anak yang dinanti-nantikan. Saat lahir, pasangan ini terkejut akan hadirnya seorang bayi cantik dan memberinya nama Keke Panagian. Keke adalah istilah Minahasa untuk panggilan sayang kepada anak perempuan.

Waktu berlalu, Panagian tumbuh besar menjadi gadis yang cantik, berbudi pekerti, dan memiliki sifat penyayang. Bukan hanya kepada sesama, Panagian juga sayang pada hewan-hewan. Karena rasa peduli dan sayangnya yang begitu besar, Panagian pernah hilang dan membuat orang-orang satu desa mencari keberadaannya. Akhirnya, Panagian ditemui di pinggir danau karena mengikuti anak kucing yang kehujanan dan mencari saudara-saudara lainnya di dekat danau. Karena hujan deras, Panagian pun ketakutan berjalan pulang ke rumahnya.

Di kesempatan lain, Keke Panagian pernah hampir hanyut di sungai. Ia berusaha menyelamatkan temannya yang tergelincir ke dalam sungai saat mereka bermain. Mamalauan yang ada di sungai sambil mencuci amat ketakutan, untungnya Panagian dan temannya berhasil selamat.

Sejak kejadian-kejadian mengkhawatirkan tersebut, Pontohroring dan Mamaluan sangat melindungi Panagian, mereka tidak mau kejadian yang sama atau lebih bahaya terulang lagi. Untuk melindungi putri semata wayangnya, Pontohroring dan Mamalauan membuat banyak larangan.

Bahkan, di usia Panagian yang semakin beranjak remaja ia dilarang bepergian sendiri keluar rumah terlebih di malam hari. Padahal, teman-teman seusianya sering bermain bersama sekadar menangkap ikan di sungai atau menari bersama. Berbeda dengan Panagian, ia lebih sering bermain di rumahnya bersama teman-teman sebayanya daripada di luar rumah.

Hingga suatu hari Panagian diliputi rasa sedih. Di desa Wanua Uner, ada sebuah pesta yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh warga. Pesta itu adalah perayaan syukur seluruh warga selepas musim panen yang digelar sepanjang malam bulan purnama. Kali ini, pesta akan digelar besar-besaran karena hasil panen di desa Wanua Uner juga berlimpah-limpah. Seluruh warga pun menyambut gembira pesta tersebut.

Di pesta itu, ada sebuah tarian yang menjadi sorotan utama. Tarian itu adalah tari Maengket, tarian tradisional Minahasa itu menggambarkan raya syukur atas panen yang berhasil dan kesuburan alam pada Sang Pencipta. Semua ingin sekali pergi ke pesta syukuran panen itu, tak terkecuali Panagian dan teman-temannya.

Panagian tahu, bahwa ayah dan ibunya pasti tidak mengizinkan dia untuk pergi ke pesta panen. Panagian tetap berupaya memohon izin pada ibu dan ayahnya, sayangnya Panagian sama sekali tidak diizinkan pergi oleh orang tuanya. Jangankan menari Maengket seperti yang ia dambakan, pergi ke pestanya saja Panagian tidak diperbolehkan.

Hari pesta pun tiba, suasana di desa begitu ramai dan meriah. Dari pagi, orang-orang memenuhi tanah lapang tempat dihelatnya pesta. Panagian hanya bisa mendengar riuh rendah keramaian dan orang-orang berlalu-lalang dari balik jendela kamarnya. Semakin menjelang malam, suasana semakin ramai. Seakan menghibur diri sendiri, Panagian berganti baju. Ia merias diri dengan baju terbaik dan merias dirinya dengan begitu menawan.

Tidak sampai di situ, Panagian memberanikan diri menemui ayah dan ibunya. Di bawah bulan purnama yang bulat sempurna dan terang benderang, Panagian kembali mengutarakan keinginannya untuk pergi ke pesta. Namun keputusan orang tuanya tetap sama, Panagian dilarang pergi ke pesta tersebut. Hati Panagian hancur tidak diperbolehkan pergi, ia pun kembali ke kamarnya yang sunyi sambil membayangkan meriahnya pesta syukur itu bersama teman-temannya.

Tiba-tiba sebuah cahaya datang memasuki kamarnya. Saat Panagian membuka jendela kamar, cahaya itu membentuk sebuah jalan lurus tepat ke tanah lapang tempat pesta ucapan syukur panen digelar. Panagian terkesima, kemudian ia berjalan mengikuti cahaya itu dan tepat tiba di keramaian pesta. Semua orang yang berada di tengah keramaian itu seakan melihat putri turun dari langit, seluruh warga pun terkesima dengan kehadiran Panagian. Saat acara menari Maengket dimulai, Panagian pun ikut menari. Siapa sangka, Panagian menari dengan begitu lihai seakan-akan sudah sering melakukannya padahal inilah kali pertama ia menari Maengket. Pesta yang didatangi Panagian sangat meriah sampai ia pun lupa waktu dan berpesta hingga menjelang fajar.

Dengan terburu-buru, Panagian pulang ke rumahnya dengan ketakutan. Setibanya di rumah, Panagian tidak dipersilakan masuk oleh ayah dan ibunya. Mondoringin begitu marah pada Panagian. Ia sangat geram, karena putri yang paling dia sayangi berani melawan. Mamalauan juga kecewa pada Panagian yang tidak dapat bersabar dan menahan diri. Panagian terus memohon dan menangis dari luar rumah. Ia meminta maaf dalam tangis penyesalannya. Namun hati sang ayah dan ibu tidak bergeming. Bukannya memaafkan dan membiarkannya masuk ke rumah, Mondoringin justru mengusir Panagian.

Perasaan Panagian begitu hancur. Sekuat tenaga ia terus memohon maaf pada orang tuanya, namun ayah dan ibunya tetap tidak mau menemuinya. Panagian pun pergi dalam kesedihan, lalu ia pergi ke rumah bibinya untuk bermalam dan berlindung dari dinginnya malam.

Sang bibi dan paman yang terkejut mendapati kehadiran Panagian prihatin melihatnya, namun mereka juga tidak dapat berbuat banyak demi menjaga perasaan ayah dan ibu Panagian. Sang bibi justru menyarankan Panagian kembali ke rumahnya, tidur di kolong rumah sambil menunggu pagi datang. Panagian tidak percaya jika ia harus tidur di kolong rumah yang sejatinya adalah tempat ternak. Ia sanagt bersedih, karena tidak satupun orang yang dirasanya bisa dijadikan tempat berlindung.

Panagian lalu pergi dengan langkah gontai dari rumah bibinya tanpa arah, namun kakinya membawa Panagian kembali ke tanah lapang tempat ia menari Maengket semalam. Panagian sangat menyesali perbuatannya, dan di dalam tangisnya ia terus bertanya-tanya mengapa tidak ada seorangpun yang membukakan pintu maaf untuk dirinya.

Dengan air mata yang mengalir deras, ia bersandar di batu tumotowa sambil terus menangis dan meratap. Di tengah tanah lapang yang luas, angin yang tadinya bertiup kencang tiba-tiba berhenti. Bulan yang bersinar terang juga seperti tidak sampai hati melihat penderitaan Panagian dengan bersembunyi di balik awan. Dalam kesunyian itu, hanya rintihan Panagian yang terdengar.

Tiba-tiba, ada cahaya tetiba datang dari langit. Keajaiban serupa kembali datang pada Panagian, sebuah tangga dari cahaya itu turun ke tengah tanah lapang seakan cahaya itu memanggil Panagian untuk menaikinya. Cahaya itu mengajak Panagian dengan lembut untuk pulang, seketika itu Panagian diliputi harapan dan perlahan menaiki tangga cahaya itu.

Ternyata sedari tadi, keluarga dan teman-temannya mengikuti Panagian dan menyaksikan kesedihannya. Pontohroring dan Mamaluan menyesali perbuatannya yang tidak memaafkan Panagian, mereka meminta Panagian untuk turun dari tangga cahaya itu. Dalam tangis, Mamaluan dan Pontohroring memohon-mohon agar Panagian kembali, tapi Panagian terus naik. Panagian justru menyampaikan salam perpisahannya seraya terus beranjak ke atas hingga langit bertaburan bintang-bintang. Sejak itu, penduduk desa Wanua Uner percaya bahwa setiap kali bulan purnama, Panagian menikmati pesta pengucapan syukur melalui sinar bulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *