Kisah Pohon Pengetahuan Dan Mogu

Pada suatu waktu, ada seorang anak yang rajin belajar. Mogu namanya berusia 7 tahun. Sehari-hari ia berladang, serta mencari kayu bakar di hutan. Hidupnya sebatang kara. Mogu amat rajin membaca, semua buku habis dilahapnya. Ia sangat menyukai pengetahuan.

Suatu hari ia tersesat di hutan hingga hari sudah gelap. Akhirnya Mogu memutuskan untuk bermalam di hutan, ia bersandar di pohon dan jatuh tertidur. Dalam tidurnya, samar-samar Mogu mendengar suara memanggilnya. Awalnya ia berpikir itu hanya mimpi, namun di saat ia terbangun suara itu masih memanggilnya.

Mogu sangat bingung darimans suara itu berasal, ia mencoba melihat ke sekeliling namun tidak ada siapa pun. Suara itu lalu mengatakan, bahwa dia adalah pohon yang Mogu sandari. Seketika Mogu menengok betapa terkejutnya dia, karena pohon yang disandarinya ternyata memiliki wajah di batangnya.

Pohon itu pun lalu mengenalkan dirinya, pohon itu bernama Tule dan pohon itu adalah pohon pengetahuan. Setelah mengenalkan dirinya, Tule puj meminta Mogu untuk mengenalkan dirinya. Mogu pun mulai mengenalkan dirinya, dan Mogu mengatakan dia pencari kayu bakar dan sedang tersesat. Akhirnya dia terpaksa bermalam di bawah pohon.

Telu lalu bertanya pada Mogu, apakah dia tertarik dengan ilmu pengetahuan dan apa guna pengetahuan baginya. Mogu pun dengan cepat menjawab, bagwa dua sangat tertarik dengan pengetahuan. Karena dengan pengetahuan, dia tidak akan mudah dibodohi orang, dan kelak pengetahuan itu akan berguna bagi orang lain.

Mogu kemudian bercerita, bahwa sumber pengetahuan di desanya sangat sedikit. Jika mencari pengetahuan ke kota, biayanya besar dan Mogu tidak sanggup. Mogu sangat ingin menambah pengetahuan, namun tidak tahu bagaimana caranya.

Telu lalu berkata, dia adalah pohon pengetahuan dan banyak orang yang mencarinya. Namun mereka tidak berhasil menemukan, karena hanya orang yang berjiwa bersih dan haus akan pengetahuan yang dapat menemukannya. Mogu telah dinyatakan lolos persyaratan, dan Telu akan mengajari Mogu berbagai pengetahuan.

Mendengar hal itu Mogu sangat girang, sejak hari itu Mogu belajar pada pohon pengetahuan. Hari-hari berlalu dengan cepat, kini Mogu tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan pengetahuannya sangat luas. Suatu hari pohon itu berkata, agar Mogu pergi mengembara. Cari pengalaman yang banyak, dan gunakan pengetahuan yang dia miliki untuk membantunya. Jika merasa kesulitan, Mogu pun boleh datang bertanya pada Telu.

Mogu pun mulai pergi mengembara ke desa-desa, dan ia memakai pengetahuannya untuk membantu orang. Memperbaiki irigasi, mengajar anak-anak membaca dan menulis. Akhirnya Mogu tiba di ibukota, dan di sana ia mengikuti ujian negara. Mogu berhasil lulus dengan peringkat terbaik sepanjang abad, sehingga raja pun kagum akan kepintarannya.

Namun, ada pejabat lama yang iri terhadapnya. Pejabat Monda ini tidak senang Mogu mendapat perhatian lebih dari raja, maka ia mencari siasat agar Mogu terlihat bodoh di hadapan raja.

Di hadapan raja, Monda mengajukan pertanyaan kepada Mogu. Mogu pun harus dapat menjawabnya di hadapam raja. Pertanyaan pertama, Monda menanyakan tinggi badannya kepada Mogu.

Mogu pun memjawab, tinggi badan Monda sama panjang dengan ujung jari anda yang kiri sampai ujung jari anda yang kanan bila direntangkan. Pejabat Monda dan raja tidak percaya, lalu mereka menyuruh seseorang untuk mengukurnya. Ternyata jawaban Mogu benar, dan raja pun menjadi semakin kagum.

Pejabat Monda sangat kesal, namun ia belum menyerah. Selanjutnya Monda meminta Mogu untuk membuat api tanpa pemantik api. Dengan tenang Mogu mengeluarkan kaca cembung, lalu mengumpulkan setumpuk daun kering. Ia membuat api, menggunakan kaca yang dipantul-pantulkan ke sinar matahari. Tidak lama kemudian daun kering itu pun terbakar api. Raja semakin kagum, sementara Tuan Monda semakin kesal.

Raja lalu berkata, bagwa dia pernah mendengar tentang pohon pengetahuan. Raja pun meminta Mogu untuk mengantarkan dirinya ke ketak pohon pengetahuan, sebagai bukti bahwa pengetahuan Mogu memang sangat luas. Mogu pun ragu, namun setelah berpikir sejenak Mogu mulai berkata sebenarnya.

Mogu berkata, bahwa sebenarnya dia tahu namun tidak boleh sembarang orang boleh menemuinya. Sebenarnya, pohon itu adalah guru Mogu. Mogu bersedia mengantarkan raja, namun pergi hanya berdua saja dengan berpakaian rakyat biasa. Setelah bertemu, raja harus berjanji tidak akan memberitahukannya pada siapa pun.

Raja menyanggupi persyaratan Mogu, dan kemudian mereka mulai pergi menuju pohon pengetahuan. Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah mereka di tujuan. Kemudian raja berkata pada Teku, bahwa dia ingin menjadi muridnya dan menjadi raja yang paling bijaksana. Telu lalu menjawab, bahwa raja sudah cukup bijaksana dan cukup dengarkan suara hati rakyat. Pahamilah perasaan mereka, lakukan yang terbaik untuk rakyat. Jangan mudah berprasangka, selebihnya Mogu akan membantunya.

Seolah-olah Telu tahu ajalnya sudah dekat, lalu Telu berkata waktunya sudah hampir habis. Sayang sekali pertemuan mereka begitu singkat. Tiba-tiba Monda menyeruak bersama sejumlah pasukan, dan berteriak pada Telu bahwa dia harus mengajarkan ilmu padanya. Namun Telu dengan tegas menolaknya, dan berkata bahwa Monda tidak memiliki hati yamg bersih.

Jawaban pohon itu membuat Monda marah. Ia memerintahkan pasukannya untuk membakar pohon pengetahuan. Raja dan Mogu berusaha menghalangi, namun mereka kewalahan. Walau berhasil menghancurkan pohon pengetahuan, Monda dan pengikutnya tidak luput dari hukuman. Mereka tiba-tiba tersambar petir dan akhirnya tewas. Sebelum meninggal, pohon pengetahuan memberikan Mogu sebuah buku. Dengan buku itu Mogu semakin bijaksana. Bertahun-tahun kemudian, Raja mengangkat Mogu menjadi raja baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *