Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil ada sepasang suami istri petani yang sangat miskin. Mereka bekerja keras setiap hari dari pagi hingga petang, namun hasil panen mereka seringkali hanya cukup untuk makan hari itu saja. Mereka selalu berharap akan datangnya keajaiban.
Suatu pagi, saat si petani hendak memberi makan angsa peliharaan mereka di kandang belakang, ia terkejut bukan main. Di sarang angsa itu, tergeletak sebuah telur yang berkilauan aneh. Petani itu mengambilnya, dan betapa kagetnya dia karena telur itu terasa berat dan berkilau seperti emas.
Petani itu kemudian berteriak memanggil istrinya sambil lari ke dalam rumah, istrinya yang sedang menjahit baju tua pun terheran melihat suaminya. Matanya pun terbelalak, setelah melihat telur di tangan suaminya yang seperti emas murni itu.
Lalu mereka segera membawanya ke pasar di kota, dan benar saja sebuah toko perhiasan mau membelinya dengan harga yang sangat mahal. Setelah pulang dari kota mereka pulang membawa kantung penuh uang, makanan enak, dan pakaian baru. Mereka merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.
Ternyata keajaiban tidak berhenti di situ, keesokan paginya mereka berlari ke kandang dan menemukan hal yang sama. Satu butir telur emas murni, begitu pula lusa dan hari-hari berikutnya.
Setiap hari, sang angsa akan mengeluarkan satu butir telur emas. Hidup petani dan istrinya kini berubah total, dari gubuk reot mereka pindah ke rumah yang besar dan megah. Mereka kini memiliki lahan yang luas, dan mereka tidak perlu lagi bekerja keras cukup menunggu angsa mereka bertelur setiap pagi.
Awalnya, mereka sangat bersyukur dan bahagia. Mereka merawat angsa itu seperti raja, memberinya makanan terbaik serta kandang terindah. Kemakmuran yang datang terus-menerus ternyata tidak membuat mereka puas. Seiring berjalannya waktu, si petani dan istrinya mulai merasa tidak sabar.
Sang istri yang merasa sudah menjadi kaya, tidak sabar harus menunggu angsa itu memberikannya satu per satu telur sehari dan dinilai terlalu lambat. Petani itu tidak mengerti maksud perkataan istrinya, maka istri petani itu menjelaskan maksud pikirannya.
Istri itu berpikir, jika setiap hari angsa itu dapat mengeluarkan satu telur emas pasti di dalam perutnya ada sumber emas yang sangat besar. Bahkan, mungkin ada bongkahan emas sebesar kepalan tangan.
Si petani terdiam sejenak, dan benih keserakahan mulai tumbuh di hatinya. Logika mereka tertutup oleh bayangan kekayaan instan, mereka lupa bahwa kesabaran merupakan kunci sebuah sifat yang sering diuji. Sayangnya, si petani dan istrinya sudah dibutakan oleh kerakusan.
Keesokan paginya, didorong oleh hasrat ingin kaya mendadak si petani mengambil kapak paling tajam yang ia miliki. Bersama istrinya, ia masuk ke kandang angsa. Tanpa berpikir panjang, si petani langsung menebaskan kapaknya dan membelah perut angsa ajaib itu.
Mereka berdua segera mencari bongkahan emas yang mereka impikan. Namun, di dalam perut angsa itu ternyata tidak ada apa-apa. Tidak ada satu pun butiran emas, dan yang mereka temukan hanyalah organ dalam angsa biasa sama seperti angsa-angsa lainnya.
Petani dan istrinya kini hanya dapat terduduk lemas, karena angsa yang menjadi sumber kekayaan mereka kini telah mati di tangan mereka. Tentu saja, sumber telur emas itu kini sudah tidak ada lagi.
Petani itu menyesal karena terlalu serakah dan menjadi bodoh atas nafsunya sendiri. Mereka telah membunuh angsa yang memberi mereka telur emas, dan kini mereka tidak akan pernah lagi mendapatkan telur emas. Lambat laun mereka kehilangan semua kemakmuran mereka akibat satu tindakan bodoh yang didasari oleh keserakahan dan ketidaksabaran.