Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang terletak di Kalimantan Barat, hiduplah seorang ibu bersama anak perempuan semata wayangnya. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. Sang ibu bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meskipun hidup dalam keterbatasan, sang ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Namun, anak perempuan tersebut memiliki sifat yang sombong dan manja. Ia sangat memperhatikan penampilannya dan sering merasa malu dengan keadaan ibunya yang sudah tua dan berpakaian sederhana. Ia juga jarang membantu pekerjaan rumah dan selalu meminta ibunya memenuhi keinginannya.
Suatu hari, mereka pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sang ibu berjalan di belakang anaknya sambil membawa keranjang belanjaan. Di tengah perjalanan, beberapa orang menyapa anak perempuan tersebut dan bertanya siapa perempuan tua yang berjalan di belakangnya.
Dengan wajah angkuh, anak itu menjawab bahwa perempuan tersebut hanyalah pembantunya. Mendengar jawaban itu, hati sang ibu terasa sangat sedih. Ia tidak menyangka anak yang selama ini dibesarkannya dengan penuh kasih sayang justru malu mengakuinya sebagai ibu.
Setelah beberapa kali mendapatkan perlakuan serupa, sang ibu akhirnya berhenti berjalan dan berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agar anaknya diberikan pelajaran supaya menyadari kesalahannya.
Tiba-tiba, tubuh anak perempuan itu perlahan berubah menjadi batu. Awalnya, ia merasa ketakutan dan meminta pertolongan kepada ibunya. Namun, perubahan tersebut terus terjadi hingga seluruh tubuhnya menjadi batu. Air mata penyesalan mengalir dari wajahnya.
Sejak saat itu, batu tersebut dikenal dengan nama Batu Menangis. Masyarakat kemudian menjadikan kisah ini sebagai pengingat agar setiap anak selalu menghormati dan menyayangi orang tuanya.
Pesan moral: Jangan pernah merendahkan orang tua, terutama mereka yang telah berjuang dan berkorban untuk membesarkan kita.