| by teloletom | No comments

Abu Nawas Menghancurkan Rumah Hakim

Seandainya Abu Nawas mau, sudah sejak dulu ia menjadi kaya raya dan hidup makmur dengan anak istrinya. Karena Abu Nawas berulang kali memperoleh pundi uang emas. Hadiah yang melimpah tersebut habis, karena dibagi kepada orang yang sangat memerlukan.

Abu Nawas dikenal sebagai orang yang suka membela orang lemah dan tertindas. Pada suatu hari, ada seorang laki-laki yang mengadukan nasibnya yang buruk. Tidak ada seorang pun yang berani menolong karena masalahnya melibatkan penguasa, yaitu seorang hakim. Maka, ia dianjurkan untuk meminta tolong kepada Abu Nawas.

Laki-laki itu bercerita kepada Abu Nawas. “Ketika tidur aku bermimpi berdagang dengan Tuan Hakim. Aku membeli dagangan beliau dengan jumlah yang amat besar, hingga nilainya mencapai ribuan dinar. Namum, ketika aku melakukan pembayaran aku terjaga,” kata laki-laki itu.

“Lalu apa masalahmu?” tanya Abu Nawas.

“Kemudian aku menceritakan mimpiku itu kepada teman dan tetangga. Dan tidak kusangka, mimpiku itu tersebar kemana-mana. Ketika Tuan Hakim mendengarnya, dia langsung ke rumah mencariku dan menyita rumahku berserta isinya. Dia tidak peduli walaupun itu hanya terjadi dalam mimpi, dan aku dianggap telah melanggar hukum. Menurut dia, seharusnya aku segera melaporkan tentang mimpiku kepadanya, kemudian langsung melakukan pembayaran. Kini aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Tolonglah aku Wahai Abu Nawas…,” cerita laki-laki itu sambil memelas.

Abu Nawas pun emosi mendengar pengaduan laki-laki itu. Ia menyanggupi akan membantu laki-laki itu dan berjanji akan mengembalikan semua kekayaan yang telah dirampas oleh Hakim dengan seenaknya.

Kemudian Abu Nawas mengumpulkan seluruh murid-muridnya. “Kita wajib membantu orang yang memang memerlukan pertolongan. Besok setelah shalat shubuh, kita akan menghancurkan rumah hakim yang zalim itu. Sekarang siapkan peralatan yang dibutuhkan,” kata Abu Nawas dengan serius.

Murid-murid Abu Nawas pun menyiapkan segala sesuatunya, tanpa membantah sedikit pun. Setelah melakukan shalat shubuh, Abu Nawas bersama muridnya pergi menuju ke rumah Hakim. Tanpa perintah lagi, mereka mulai menggempur rumah Hakim. Tuan Hakim yang sedang tertidur lelap, kemudian menjadi terbangun karena kegaduhan itu.

Karena jumlah murid Abu Nawas begitu banyak, tuan Hakim tidak berani mencegah. Ia berlari menuju istana untuk melaporkan kepada Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Setelah itu, Abu Nawas pun segera dipanggil untuk menghadap Baginda.

“Wahai Abu Nawas, benarkah engkau dan murid-muridmu ingin menghancurkan rumah tuan Hakim?” tanya Baginda.

“Benar Tuanku yang mulia,” jawab Abu Nawas.

“Apa yang menyebabkan engkau berbuat begitu? Bukankah engkau tahu bahwa perbuatan seperti itu termasuk tindakan pidana dan bisa dihukum?” tanya Baginda.

“Baginda yang mulia, sebenarnya yang menyebabkan hamba nekat berbuat begitu, hanya karena mimpi,” kata Abu Nawas menjelaskan.

“Hanya karena mimpi?” tanya Baginda heran.

“Benar, Tuanku yang mulia,” jawab Abu Nawas.

“Mimpi apa?” tanya Baginda penasaran.

“Hamba bermimpi telah membeli rumah tuan Hakim, kemudian hamba merencanakan rumah tuan Hakim yang telah hamba bayar itu untuk dijadikan masjid. Dari itulah, hamba memerintahkan murid-murid hamba untuk merobohkannya,” jelas Abu Nawas.

“Undang-undang mana yang membenarkan perbuatan seperti itu hai, Abu Nawas?!!” kata Baginda mulai marah.

“Undang-undang yang dirancang oleh tuan Hakim sendiri, Baginda junjungan hamba,” jawab Abu Nawas meyakinkan.

“Apa maksudmu?” tanya Baginda belum mengerti.

Abu Nawas kemudian bercerita tentang nasib laki-laki yang malang itu. Mendengar cerita Abu Nawas, Baginda Raja naik pitam.

“Ini betul-betul perbuatan yang tidak masuk akal. Hai Hakim, benarkah apa yang diceritakan Abu Nawas?” tanya Baginda kepada hakim itu.

“Sepenuhnya benar Tuanku yang mulia,” jawab tuan Hakim dengan tubuh gemetar.

“Engkau sebagai hakim seharusnya tidak melanggar undang-undang. Engkau seharusnya menjaga dan menerapkan undang-undang dengan baik dan adil. Namun, engkau dengan kekuasaan yang aku berikan, justru merobek keadilan dengan melakukan penyitaan harta orang lain hanya karena mimpi!!!” murka Baginda kepada hakim.

“Ampun Baginda yang mulia,” jawab Hakim.

“Itu adalah perbuatan yang paling memalukan yang pernah aku dengar. Sekarang engkau harus mengembalikan semua harta dan rumah yang engkau sita kepada laki-laki itu!” murka Baginda lebih lanjut.

Selain harus mengembalikan harta dan rumah yang disitanya, tuan Hakim yang zalim itu juga mendapat hukuman dari Baginda Raja. Abu Nawas telah mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan, Hakim yang jahat bisa-bisanya membuat undang-undang sendiri.