| by teloletom | No comments

Angsa Emas Dan Si Lugu

Dikisahkan ada seorang lelaki yang mempunyai tiga orang anak, yang termuda disebut si Lugu. Dia sering diejek, ditertawakan, bahkan diabaikan keberadaannya setiap saat. Pada suatu ketika, putra yang tertua ingin pergi ke hutan untuk menebang kayu. Sebelum pergi, ibunya memberikan sebuah kue dan sebotol minuman agar dia tidak kelaparan atau kehausan.

Saat tiba di hutan, seorang lelaki tua kecil bertemu dan menyapanya sambil berkata, “Berilah aku sedikit kue, dan biarkan aku minum sedikit minumanmu, aku sangat kelaparan dan kehausan.”

Namun pemuda ini menjawab, “Apabila aku memberi kue dan minumanku padamu, maka aku tidak akan dapat makan dan minum sama sekali, pergilah kamu sekarang.”

Dia pun pergi tinggalkan lelaki tua itu berdiri di sana. Kemudian pemuda itu memulai menebang pohon, dan tiba-tiba kapaknya terselip dan melukai tangannya sendiri sehingga dia pulang ke rumah dan mengobati lukanya.

Ternyata, kecelakaan yang terjadi itu merupakan ulah dari si lelaki Tua kecil yang ditemuinya. Putra kedua pun juga masuk ke dalam hutan untuk menebang pohon, dan ibunya seperti sebelumnya memberikan makanan dan minuman yang diberikan kepada putra tertua, kue enak dan sebotol minuman segar.

Lelaki tua kecil juga bertemu dengannya, dan meminta untuk diberikan sepotong kue dan minuman, tetapi si Putra Kedua menjawab, “Apabila aku memberikan kue enak dan minuman segar ini, aku tidak punya apa-apa lagi, jadi pergilah kamu.”

Dia pun sama dengan meninggalkan si lelaki Tua kecil berdiri di sana. Tidak lama kemudian, si Putra Kedua pun mengalami kecelakaan ketika menebang pohon, dimana tanpa sengaja kapaknya melukai kakinya sendiri dengan parah, sehingga pulang ke rumah dia harus ditandu.

Kemudian si Lugu berkata kepada ayahnya, “Ayah, biarkan aku pergi ke hutan untuk menebang pohon.”

Namun ayahnya menolak dengan menjawab, “Saudara-saudaramu telah mengalami kecelakaan hingga melukai diri sendiri, apalagi kamu yang tidak tahu apa-apa tentang bagaimana cara menebang pohon.”

Namun si Lugu terus memohon hingga akhirnya ayahnya berkata, “Baiklah, pergilah kamu jika kamu ingin, pengalaman akan menjadikan mu lebih bijaksana.”

Kemudian ibunya memberikan kue kepadanya, tetapi kue ini adalah kue yang lebih sederhana, dan sebotol minuman yang sudah sedikit.

Ketika dia tiba di hutan, si lelaki Tua kecil itu bertemu dengannya, menyapanya dan berkata, “Berilah aku sedikit kuemu, dan minum dari botolmu, aku sangat kelaparan dan haus.”

Si Lugu pun menjawab, “Aku hanya mempunyai kue tepung yang sederhana dan minuman yang mempunyai sedikit kecut, tetapi bila kamu merasa kue dan minuman ini cukup enak bagi kamu, mari kita duduk bersama dan makan bersama.”

Mereka pun duduk bersama dan saat si Lugu mengeluarkan kue dan minumannya, kuenya menjadi kue yang enak dan minumannya menjadi minuman yang sangat segar. Lalu mereka pun makan dan minum. Kemudian si lelaki Tua kecil itu berkata, “Kamu mempunyai hati yang baik, dan memberi apa yang kamu punya dengan sukarela, aku akan memberikan kamu suatu hadiah. Berdirilah di pohon tua itu, kemudian menebanglah. Di balik akarnya kamu akan menemukan sesuatu.”

Setelah mengucapkan hal itu, si lelaki Tua kecil itu pun pergi. Si Lugu pun beranjak dan berdiri di dekat pohon yang diarahkan, lalu ditebanglah pohon tersebut. Saat pohon itu tumbang, dia melihat seekor angsa berbulu emas murni sedang duduk di antara akar pohon. Dia pun mengambilnya dan membawanya pergi ke sebuah penginapan karena hari telah larut malam.

Pemilik penginapan itu memiliki tiga anak perempuan, dan ketika mereka melihat angsa yang dibawa oleh si Lugu, mereka menjadi penasaran untuk tahu apa sebenarnya jenis angsa yang indah itu.

Mereka pun berharap mendapatkan satu bulu angsa yang berwarna emas. Putri tertua berpandangan, “Aku akan menunggu waktu yang baik, dan pada waktu yang tepat, aku akan mengambil salah satu bulu angsa emas itu untuk aku miliki.”

Ketika si Lugu keluar dari rumah, putri yang tertua berusaha mengambil sebuah bulu pada sayap angsa itu, akan tetapi jari dan tangannya justru menempel pada angsa itu. Setelah itu, datanglah putri kedua yang mempunyai pemikiran yang sama untuk mencabut salah satu bulu emas untuk dimiliki sendiri, tetapi saat dia menyentuh kakaknya, dia juga ikut menempel pada kakaknya. Terakhir datanglah putri ketiga dengan keinginan yang sama, tetapi yang lainnya berseru,

“Menjauhlah! Jangan mendekat!”

Namun putri ketiga tidak mengerti mengapa kakak-kakaknya menyuruhnya pergi, dan dia pun berpikir, “Jika mereka berkeinginan mencabut satu bulu angsa emas itu, mengapa aku tidak boleh?”

Setelah dia mempunyai pemikiran tersebut, dia tetap maju untuk mengambil sebuah bulu angsa. Tapi, ketika dia menyentuh kakak-kakaknya, dia menempel pada kakaknya tersebut. Mereka pun terpaksa harus tinggal bersama angsa emas itu sepanjang malam.

Keesokan paginya, si Lugu membawa angsa emas itu dan mengempitnya di bawah lengannya dan berlalu tanpa mempedulikan mengapa ketiga gadis itu mengikutinya ke manapun dia pergi. Ketiga gadis ini selalu mengikutinya, ke mana pun kakinya melangkah.

Saat melangkah di tengah-tengah ladang, mereka bertemu seorang tokoh adat yang saat melihat barisan ini, menghardik kepada ketiga orang gadis yang mengikuti si Lugu, “Apakah kalian tidak mempunyai rasa malu? Berjalan ikuti seorang anak muda melalui jalan-jalan umum seperti ini? Ayo, tinggalkanlah pemuda itu dan pergi!”

Dia pun langsung mengambil lengan gadis yang termuda, dan seketika itu pula tangannya menempel dan menyeret dia berlalu bersama si Lugu. Tidak lama setelah itu, seorang pengurus adat melihat tokoh adat yang dihormati ini berbaris mengikuti si Lugu dan tiga orang gadis, maka dia pun berseru, “Hai, ke manakah Anda akan berjalan? Apakah Anda tidak ingat akan ada acara yang harus kita kerjakan?”

Kemudian dia memegang jubah sang Tokoh Adat, namun setelah dia memegangnya, dia pun menempel dan ikut tertarik dalam barisan si Lugu. Saat kelima orang ini berlalu beriringan, mereka berpapasan dengan dua orang petani yang baru pulang dari ladang, dan sang Tokoh Adat berseru kepada mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk datang dan melepaskan mereka dari barisan, tetapi kedua petani ini pun mengalami nasib yang sama dengan yang lain, sehingga saat ini ada tujuh orang yang mengikuti si Lugu dan angsa emasnya.

Dalam perjalanan ini, tibalah si lugu di sebuah kota dimana raja yang memimpin hanya memiliki seorang putri yang tidak bisa tertawa dan tak ada orang yang mampu membuatnya tertawa. Oleh karena itulah sang Raja memberikan sayembara bahwa barang siapa yang mampu membuatnya tertawa, diizinkan untuk menjadi suami sang Putri.

Si Lugu yang mengetahui pengumuman ini, pergi menemui sang Putri bersama angsa emasnya dan barisan orang yang menempel mengikutinya. Setelah sang Putri melihat tujuh orang yang berjalan menempel beriringan dan terseret-seret antara satu dengan yang lainnya, dia pun tertawa terbahak-bahak dan sulit untuk menghentikan tawanya. Saat itu pula, ketujuh orang yang saling menempel bisa terlepas.

Si Lugu pun meminta janji sang Raja agar sang Putri dinikahkan dengannya, tetapi sang Raja merasa bahwa si Lugu tidak sepantasnya menjadi menantunya, raja pun membuat berbagai syarat untuk menentang si Lugu. Sang Raja pun memberikan syarat bahwa si Lugu harus bisa membawakan seorang lelaki yang dapat menghabiskan seluruh minuman yang tersedia dalam gudang minuman sang Raja.

Si Lugu langsung teringat pada si lelaki Tua kecil di hutan yang dia pikir dapat membantunya. Dia pun berjalan menuju hutan, dan di lokasi yang sama ketika  dia dulu menebas pohon, dia lihat seorang pria duduk dengan muka yang sedih.

Si Lugu pun akhirnya menanyakan apa yang terjadi, lelaki itu menjawab, “Saya amat kehausan, dan apapun yang saya minum, tidak dapat memenuhi rasa haus saya. Saya tidak suka meminum air dingin, saya lebih suka meminum air segar dalam botol kecil ini, tetapi apalah artinya minuman yang hanya sebotol kecil? Rasanya seperti setitik saja bagi lelaki yang kehausan seperti saya.”

Lalu si Lugu berkata, “Aku bisa membantumu, ikutilah aku dan rasa hausmu akan terpenuhi.”

Si Lugu kemudian mengajaknya ke gudang minuman sang Raja, dan lelaki itu kemudian duduk di depan sebuah tong minuman yang besar, lalu minum dan minum. Sebelum menjelang malam, dia telah menghabiskan seluruh minuman yang ada di gudang. Si Lugu lalu meminta janji agar sang Putri bisa menjadi istrinya, tetapi sang Raja menjadi marah karena si Lugu mampu memenuhi syarat yang diberikan.

Sang Raja pun memberikan satu persyaratan lain. Si Lugu harus mencari orang yang dapat memakan tumpukan roti yang sangat banyak. Si Lugu pun langsung pergi ke hutan, dan di lokasi yang sama duduklah seorang lelaki yang perutnya diikat dengan tali dan bermuka sedih.

Lelaki itupun berbicara kepadanya, “Aku sudah memakan seluruh roti dalam oven, tetapi semua roti tidak terasa bagi lelaki yang kelaparan seperti aku. Perutku terasa kosong, dan aku terpaksa mengikatkan tali di perutku karena terlalu kelaparan.”

Si Lugu sangat bahagia mendengar ucapan lelaki itu dan berkata, “Berdirilah dan berjalanlah bersamaku. Aku akan berikan padamu makanan hingga kamu kenyang.”

Dia mengajaknya langsung ke halaman istana dimana semua roti di istana telah dikumpulkan dan dijejalkan ke sebuah tumpukan gunung roti. Lelaki dari hutan ini lalu segera makan, dan dalam satu hari seluruh tumpukan roti telah habis.

Kemudian si Lugu meminta calon istrinya kepada sang Raja untuk ketiga kalinya, namun sang Raja memberikan satu syarat lagi, dan ia pun mengatakan jika si Lugu harus membawakan kapal yang bisa berlayar di daratan dan air.

“Apabila kamu mendapatkan kapal seperti itu, kamu akan aku nikahkan dengan putriku.”

Si Lugu segera berjalan ke hutan, dan di sana duduklah lelaki tua yang pernah diberi kue oleh si Lugu. Si lelaki Tua kecil itu pun berbicara kepadanya, “Aku sudah meminum sampai habis minuman dari sebuah gudang istana demi kamu, dan aku telah menghabiskan gunungan roti demi kamu. Aku juga akan memberikan kamu kapal. Semua ini aku perbuat karena kamu sangat baik kepadaku.”

Kemudian si lelaki Tua kecil itu pun memberinya kapal yang mampu berlayar di daratan dan di air, dan pada saat sang Raja melihat kapal ini, dia pun akhirnya mengetahui jika dia tidak dapat lagi menahan putrinya untuk menikahi si Lugu. Saat Raja meninggal, si Lugu mewarisi tahta kerajaan, dan hidup penuh sselamany bersama sang Putri selamanya.