| by teloletom | No comments

Asal Mula Kolam Sampuraga

Dikisahkan, pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah seorang janda tua dengan anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Walau hidup dengan kemiskinan , mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka bekerja di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya suka pada mereka.

Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh. Obrolan dengan sang Majikan itu melambungkan impian Sampuraga.

Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga menyampaikan keinginannya tersebut pada ibunya. Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan segala sesuatunya. Pada esok harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya.

Sebelum meninggalkan gubuk reotnya, Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat disayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tanpa terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang Ibu. Sampuraga pun tidak kuasa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat.

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melawati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga pun mencoba melamar pekerjaan dan lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Sudah berulang kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu yang singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tidak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya.

Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli. Pernikahan mereka dirayakan secara besar-besaran menurut adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diadakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga dipersiapkan untuk menghibur para tamu undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersebar hingga ke pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya-raya.

Walaupun masih diselimuti keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah didengarnya. Setelah menyiapkan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing untuk menyaksikan pernikahan anaknya itu. Setibanya di wilayah kerajaan Pidoli, tampak sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terlunta-lunta, nenek tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu tidak lain adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

Karena rasa rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri dan ia berteriak memanggil nama anaknya. Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang tidak asing itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya. Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya, bagai disambar petir. Wajahnya berubah menjadi merah membara, seperti terbakar api. Ia menjadi sangat malu kepada para tamu undangan yang hadir, karena nenek tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup, ia tega mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tidak ada seorang pun yang berani menengahinya. Perempuan tua malang itu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa.

Seketika itu juga, langit diselimuti awan tebal dan hitam, dan petir pun menyambar. Tidak lama kemudian, hujan deras turun diikuti suara guntur yang menggelegar. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tidak ada seorangpun yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu berubah menjadi kolam air yang panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, terdapat dua tumpukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya seperti bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah jelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu diberi nama “Kolam Sampuraga”.