
Pada zaman dahulu di tepi Bukit Tangkiling, di Kalimantan Tengah, ada seorang pemuda Dayak bernama Tan Kin Lin. Tan Kin Lin yang diadopsi oleh seorang saudagar dari negeri Cina setelah mengalami insiden tragis. Kisahnya bermula saat ia masih kecil dan tinggal bersama ibunya, seorang wanita Dayak yang keras dalam mendidik anaknya. Karena ulahnya yang nakal dan sering merengek, ibunya tidak dapat menahan amarahnya dan memukul kepala Tan Kin Lin dengan suduk (sejenis sendok besar untuk menggoreng). Pukulan itu menyebabkan luka di kepala Tan Kin Lin, dan membuatnya lari keluar rumah dengan perasaan sedih dan dikhianati.
Tan Kin Lin berlari hingga ke dermaga di tepi sungai, di mana sebuah kapal dari negeri Cina sedang bersandar. Tanpa berpikir panjang, ia naik ke kapal dan bersembunyi. Kapal itu pun berlayar, tanpa ada yang menyadari kehadiran Tan Kin Lin. Seiring waktu, pemilik kapal yang merupakan seorang saudagar Cina menemukan anak tersebut dan membesarkannya sebagai anak angkat dengan nama Tan Kin Lin.
Setelah kepergian anaknya, sang ibu, yang telah lama kehilangan suaminya, memutuskan untuk kembali menjalani kehidupan dalam Kuwu atau Bakuwu (proses pingitan). Oleh karena itu, dalam berbagai versi legenda Bukit Tangkiling, wanita ini sering disebut sebagai Bawi Kuwu, yang berarti Perempuan Pingitan.
Bertahun-tahun kemudian, Tan Kin Lin kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang saudagar kaya. Tanpa menyadari asal-usulnya, ia jatuh cinta dengan seorang wanita misterius yang sebenarnya adalah ibunya sendiri, Bawi Kuwu, yang juga tidak mengenalinya lagi setelah sekian lama berpisah. Mereka memutuskan untuk menikah, dan sebuah pesta pernikahan besar diadakan dengan perahu besar mereka yang dinamai Banama sebagai tempat berbulan madu.
Saat sedang berbulan madu di atas Banama yang berlabuh di dermaga, Tan Kin Lin meminta istrinya mencari kutu di kepalanya. Ketika rambut panjang Tan Kin Lin terurai, terlihatlah bekas luka di kepalanya. Bawi Kuwu, terkejut melihat bekas luka tersebut, langsung bertanya kepada suaminya bagaimana ia mendapatkan luka itu.
Tan Kin Lin pun mulai menceritakan bagaimana ia mendapat luka tersebut ketika masih kecil—saat ibunya memukulnya dengan suduk karena ulahnya yang nakal, dan bagaimana ia lari ke kapal yang membawanya ke negeri Cina, di mana ia diadopsi oleh saudagar.
Mendengar cerita itu, Bawi Kuwu langsung mengenali luka tersebut dan menyadari bahwa pemuda yang dinikahinya adalah anak kandungnya yang dulu hilang. Ia pingsan setelah berteriak bahwa Tan Kin Lin adalah anaknya. Dalam kekacauan itu, Tan Kin Lin melarikan diri ke hutan dengan perasaan bersalah dan hancur.
Bawi Kuwu, yang merasa malu dan bersalah, tidak berani turun dari Banama. Dia tetap berada di atas perahu tersebut, menutup diri dari masyarakat yang mungkin akan menghukumnya atas dosa besar yang tak disengaja itu.
Namun, takdir tidak memberi mereka waktu untuk menebus kesalahan mereka. Dewata, yang murka atas pelanggaran besar ini, turun tangan. Petir menyambar dengan keras, menghantam langit dan Banama. Dalam sekejap, Tan Kin Lin, ibunya, dan perahu besar mereka berubah menjadi batu. Kutukan Dewata mengubah mereka menjadi monumen bisu yang mengingatkan manusia tentang hukum alam dan takdir yang tidak boleh dilanggar.
Batu besar yang dikenal sebagai Batu Banama, atau batu perahu, masih dapat dilihat hingga hari ini di tepi sungai. Masyarakat Dayak percaya bahwa roh Tan Kin Lin dan ibunya masih bersemayam di sana, menjadi pengingat bagi mereka untuk selalu menghormati hubungan darah dan hukum alam.