![]()
Zaman dahulu kala, ada sepasang suami istri yang sudah tua. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, mereka hanya mengandalkan hasil menjual kayu bakar. Pada suatu hari yang bersalju, si kakek dan nenek pergi menjual kayu bakar ke kota. Di tengah perjalanan, mereka melihat seekor burung bangau yang tengah terperangkap. Karena kasihan, mereka menolong dan melepaskannya.
Beberapa malam kemudian, terdengarlah suara orang yang mengetuk pintu rumah mereka. Di luar pintu, terlihat seorang gadis yang sedang menggigil kedinginan. Gadis itu bercerita, bahwa dia hidup sebatang kara dan gadis itu sedang mencari tempat untuk menghangatkan badan. Dia kesulitan mencari jalan menuju ke kota, dan untungnya dia melihat cahaya api dari rumah kakek nenek itu tinggal. Mendengar cerita gadis itu, kakek dan nenek saling memandang dan tersenyum. Nenek pun lalu mengizinkan gadis itu untuk tinggal di rumahnya selama dia mau.
Gadis yang bernama Otsuru itu pun menerima ajakan si kakek dan nenek. Otsuru sangat rajin dan suka membantu pekerjaan nenek, seperti memasak dan membersihkan rumah. Suatu hari, si kakek pulang dengan lesu karena hutan di dekat rumah mereka sudah gundul. Jadi, mereka kini tidak punya tempat untuk mencari kayu bakar yang akan dijual.
Otsuru yang mendengar pembicaraan itu langsung masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian, ia keluar dari kamar dengan membawa kain tenun yang indah. Otsuri lalu menghibur kakek nenek agar tidak bersedih, dan sebagai gantinya mereka dapat menjual kain tenun yang telah dibuatnya.
Si kakek pun lalu membawa kain indah itu ke pasar untuk dijual, ternyata kain yang indah itu terjual dengan harga tinggi. Si nenek pun memeluk Otsuru dan berterima kasih atas bantuan gadis itu. Sejak saat itu, Otsuru selalu menenun kain untuk menghidupi keluarga tersebut. Namun, Otsuru meminta agar jangan ada yang masuk ke kamarnya saat bunyi alat tenun terdengar.
Semalaman, Otsuru menenun untuk menghasilkan kain yang indah. Saat Otsuru keluar kamar, si kakek segera pergi ke pasar untuk menjual kain indah itu. Kain yang ditenun Otsuru terjual dengan harga tinggi, bahkan banyak orang yang memesan kain tenun tersebut. Si kakek pun memberitahu Otsuru tentang pesanan kain tenun. Namun Otsuru menggeleng, karena kain yang akan dia tenun adalah yang terakhir.
Setelah itu, Otsuri lalu segera masuk ke kamar dan terdengarlah bunyi alat tenun. Karena tidak bisa menahan rasa penasaran, kakek dan nenek pun mengintip ke kamar Otsuru. Mereka bingung, karena Otsuru dapat menenun dengan cepat dan indah. Begitu terkejutnya saat mereka melihat bukan Otsuru yang sedang menenun di kamar, melainkan ada seekor bangau putih sedang mencabuti bulunya untuk bahan menenun. Bangau putih sadar ada yang memperhatikannya, lalu menoleh dan melihat kakek nenek yang sedang memperhatikannya.
Kakek dan nenek akhirnya tahu siapa Otsuru sesungguhnya, dia adalah bangau putih yang pernah mereka tolong dulu. Otsuru hanya ingin membalas jasa mereka dengan menenun kain dari bulunya sendiri. Si kakek dan nenek pun terlihat sedih, karena Otsuru harus pergi setelah selesai menenun kain. Kakek nenek itu pun meminta agar Otsuru jangan pergi dan tetap tinggal bersama mereka, namun Otsuru tetap menolak permintaan mereka dan terbang tinggi ke awan. Sementara itu, kakek dan nenek hanya bisa menangis sedih melihat Otsuru terbang pergi.