| by teloletom | No comments

Burung Hantu Pemalas

Pada zaman dahulu kala, hidup seekor burung hantu di sebuah hutan rimba belantara. Burung hantu itu berwarna abu-abu gemuk dan sangat lucu, namun sayangnya dia merupakan seekor burung yang sangat pemalas.

Pada suatu hari yang sangat cerah, saat dia sedang tidur mendengkur, bertengger di sebuah dahan pohon yang sangat besar, tiba-tiba di atas dahan lain di pohon tersebut ada burung pelatuk yang datang. Kemudian sang burung pelatuk itu mematuk pohon tersebut dengan cepat untuk mencari ulat kayu yang tersimpan di dalam dahan kayu tersebut.

Yang dilakukan burung pelatuk itu membuat sang burung hantu menjadi marah, namun dengan rasa malasnya dia mengusir burung pelatuk tersebut dengan kata-kata yang sangat kasar.

“Enyahlah burung jahat! apakah engkau sudah tidak punya mata ataukah engkau sengaja menantangku untuk berkelahi!” Teriak burung hantu dengan penuh amarah.

“Maaf aku hanya mencari makanan yang terletak di dalam dahan yang aku patuk tadi,” jawab burung pelatuk.

“Mengapa engkau mancari makan di dahan pohon ini, carilah di tempat lain masih banyak pohon di hutan ini,” burung hantu kembali membentak dengan suara lantangnya.

“Semua hewan yang ada di hutan ini sedang sibuk bekerja mengapa engkau hanya diam mematung, dasar pemalas!” seru sang burung pelatuk.

Dengan cepat dia pun pergi dari tempat tersebut dengan perasaan sangat kesal sekali kepada burung hantu yang pemalas dan juga pemarah.

“Kini aku akan tenang kembali tidur tanpa ada hewan lain yang akan menggangguku”, dia pun kembali melanjutkan tidur siangnya yang terganggu oleh kehadiran sang burung pelatuk.

Namun baru saja sebentar matanya tertutup, terdengar suara siulan keras menakutkan dari seekor burung yang ukuran badannya hampir sama dengannya. Siapakah yang punya suara seram seperti itu, “oh ternyata seekor burung gagak Magpie.” Gumam si burung hantu.

Suaranya yang begitu melenting keras begitu memekakkan telinga bagi yang mendengarnya. Tentu saja hal ini membuat sang burung hantu semakin marah.

“Hai kau, berisik sekali! pergilah dari sini burung jelek,” burung hantu mengusir sang Magpie burung gagak.

Burung Magpie hanya diam saja, dia sedikit pun tidak takut sama sekali terhadap burung hantu yang galak tersebut.

“Dari tadi engkau hanya tidur dan tidur saja kerjaannya, apakah engkau tidak berminat mempunyai sarang sendiri?, buatlah sarang selagi engkau tidak sibuk mencari makan,” ucap burung Magpie dan terus terbang berlalu dari tempat tersebut dengan rasa kesal terhadap burung hantu sang pemarah.

Sesaat kemudian, terlihat seekor burung kecil pipit terbang di atas kepalanya sambil membawa ranting kecil sebagai bahan untuk membuat sarangnya. Terus menerus burung Pipit itu terbang bolak-balik membawa berbagai jenis daun-daun kering dan ranting kecil yang kemudian dia susun rapih, untukbmembangun sarang dengan tekun dan telaten.

Kemudian sang burung hantu pun berpikir, “suatu saat aku pun akan membuat sarang yang bagus untuk tempat tinggalku dan anak-anak istriku” pikirnya.

Hari pun telah berganti malam, udara malam yang sangat dingin itu menyiksa si burung hantu. Dinginnya malam itu terasa menusuk tulang sumsum si burung hantu. Sang burung hantu pemalas berpikir, “seandainya aku tertidur di dalam sarang alangkah hangatnya”, bisik hati kecilnya.

“Namun malam hari adalah dimana aku akan mencari makan tikus sebagai mangsaku yang akan memuaskan rasa laparku malam ini”, dia berlalu mancari mangsa.

Namun, hingga subuh menjelang dia tidak dapat menemukan mangsa untuk dimakan, baru saat ayam jantan berkokok dia berhasil mendapatkan seekor tikus yang cukup besar.

“Lumayan sebagai pemuas nafsu makanku hari ini, aku mendapatkan makanan juga akhirnya,” pikirnya dalam hati.

Pagi yang dingin dengan perut yang sudah terisi kenyang, tidak menjadi tambah dingin karena semua akan kembali hangat setelah matahari pagi muncul. Sang burung hantu telah menyiapkan tenaga dan pikiran untuk membuat sebuah sarang yang sangat bagus untuk dirinya.

Namun setelah dia berada dalam sebuah dahan di atas pohon, pikiran untuk membuat sarang pun telah hilang dalam benaknya, dia kembali dengan rasa malas yang telah mengalahkan segalanya. Hingga saat ini pun burung hantu tidak pernah membuat sarang untuk dirinya dan anak istrinya, namun dia hanya selalu berangan-angan ingin membuat sebuah sarang. Sebuah impian tidak akan pernah terwujud, selama rasa kemalasan tidak bisa dihilangkan, seperti yang terjadi pada si burung hantu.