![]()
Teh, merupakan minuman yang berasal dari daun teh dan digemari oleh semua kalangan, baik itu muda atau tua, laki atau perempuan, rata-rata semua suka dengan minuman ini. Biasa disajikan dalam bentuk panas atau dingin, tawar atau manis. Bahkan teh juga dibagi dalam 4 kelompok, yaitu, teh hijau, teh oolong, teh putih, dan teh hitam Bahkan di Jepang juga ada suatu tradisi adat berupa upacara minum teh atau yang lebih dikenal cha no yu.
Namun, yang penulis bahas kali ini bukanlah aneka jenis teh, atau tata cara upacara minum teh, bukan juga aneka variasi minuman dari teh. Yang penulis bahas kali ini adalah filosofi pelajaran hidup yang bisa diambil dari daun teh. Siapa yang sangka, hanya dari daun, kita bisa banyak belajar dan bisa menjadi ilmu dalam hidup kita setiap harinya.
Penyajian teh ada yang dicelup atau direbus. Semakin lama proses penyajian atau cara kita dalam membuat minuman teh, akan mempengaruhi rasa. Semakin lama prosesnya, semakin kuat rasa yang muncul dari teh itu sendiri, sehingga meninggalkan rasa yang khas di mulut kita.
Kita hidup bagaikan daun teh yang sedang dimasak. Dalam artian, kita hidup itu selalu ada masalah yang kita hadapi, entah itu masalah kecil yang mudah atau masalah berat yang membuat kita bisa menjadi stres dan tertekan. Tapi, semakin lama kita bergelut dengan masalah yang ada dalam kehidupan kita dan kita kuat tegar menjalaninya, itu akan menjadikan diri kita sebagai sosok yang kuat dari sebelumnya.
Kuat yang dimaksud adalah kuat dalam segala aspek, tergantung masalah apa yang kita hadapi. Penulis ambil contoh andai kita bergelut dengan masalah pekerjaan sehari-hari, misalnya kita seorang koki masak. Penulis analogikan kita sebagai daun teh sedang dimasak. Andai kita hanya dimasak sebentar (kita kerja sebagai koki masak hanya sebentar), maka ilmu kita dalam dunia kuliner masih bisa dibilang awam atau hanya tahu dasarnya saja. Beda cerita ketika kita dimasak dalam waktu yang lama (bekerja sebagai koki masak bertahun-tahun), maka ilmu kita dalam dunia kuliner sudah pasti tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Bahkan hanya dengan aroma, kita sudah bisa menilai rasa dari masakan yang ada, entah itu terlalu pedas, terlalu asin, atau lainnya. Dalam sejarah, tidak ada seorang koki masak hebat yang belajar dalam waktu singkat. Jika ada pun hanya beberapa orang saja dan itu merupakan anugerah bakat yang diberikan oleh Yang Maha Esa.
Berikut filosofi kehidupan dari cara memasak daun teh. Kemudian filosofi lainnya yang dapat kita ambil adalah pemilihan daunnya. Rasa teh yang terbaik adalah teh yang diolah dari pucuk pohonnya, bukan tengah atau pangkal, tapi pucuk yang seperti tunas daun mau tumbuh. Lalu apa yang jadi kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari? Berikut akan penulis bahas.
Daun teh yang terbaik adalah pucuk yang seperti tunas, dan pucuk daun teh itu diibaratkan sebagai generasi muda. Generasi muda merupakan orang yang akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan. Tapi, itu semua tergantung dengan bagaimana cara generasi muda tersebut dididik dan dituntun. Jika ajaran yang dia dapat benar, maka dia akan menjadi orang yang dapat diandalkan untuk masa depan yang cerah. Namun sebaliknya, jika yang ajaran yang diterimanya salah dari awal, maka bisa jadi masa depan akan suram.
Kenapa tidak generasi tua atau orang yang memiliki pengalaman yang dipilih? Pada umumnya, orang yang sudah merasa ahli atau profesional, ketika diajarkan suatu hal yang baru, mereka akan congkak dan menganggap remeh suatu pembelajaran baru. Hal itu karena mereka menganggap diri mereka lebih tahu lebih pintar, sehingga tidak perlu pembelajaran dari apapun dan dari siapapun. Oleh karena hal itu, generasi tua atau orang yang berpengalaman jarang dipilih dan mereka akan hidup sesuai dengan rutinitas yang biasa mereka jalani setiap harinya. Padahal belum tentu pengetahuan yang mereka miliki dapat mengalahkan sebuah ajaran baru.
Misalnya orang yang sudah sangat ahli dalam dunia otomotif sepeda motor. Mereka sangat ahli dalam mesin dengan mesin yang menggunakan karburator, sedangkan saat ini pada umumnya sepeda motor menggunakan injeksi. Mereka akan menilai mesin sepeda motor dengan injeksi tidak mampu mengalahkan mesin sepeda motor dengan karburator, dan mereka akan mencari kekurangan dari mesin sepeda motor injeksi sehingga argumen mereka tentang sepeda motor mesin karburator lebih unggul tidak terpatahkan.
Beda halnya dengan generasi muda. Generasi muda yang sudah paham dengan mesin sepeda motor karburator, kemudian tahu adanya mesin sepeda motor injeksi, mereka akan belajar untuk memahami tentang mesin sepeda motor injeksi tersebut. Mereka akan membandingkan dan mengkomparasikan kedua mesin tersebut, sehingga diketahui kelebihan dan kekurangan dari kedua mesin jtu. Seperti yang diketahui oleh publik, mesin sepeda motor injeksi konsumsi bahan bakarnya lebih irit daripada mesin sepeda motor karburator.
Filosofi yang terakhir, teh ternyata juga dapat digunakan sebagai obat. Hal ini sudah dilakukan di Cina sejak abad 8 SM. Pada jaman itu, teh digunakan sebagai obat pemunah bila terkena racun. Kita juga bisa belajar untuk menjadi obat bagi sesama kita, bukan obat untuk penyakit panas, batuk, atau lainnya. Melainkan obat untuk menghibur sesama kita yang sedang mengalami kesusahan, atau sedang dirundung masalah. Walau mungkin kita tidak bisa membantunya, ketika kita hadir dan menghibur sesama kita saat dia sedang kesusahan, itu dapat mengurangi tekanan dalam hidupnya dan setidaknya kita mengobati dia dari kemungkinan penyakit psikis yang bisa timbul akibat masalah yang dihadapinya.