Kisah Capung Dan Daun Teratai

Dikisahkan, ada satu danau yang berbentuk hati dengan air berwarna biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga, seperti belalang, kupu-kupu, kunang-kunang, dan laron. Mereka hidup dengan Bahagia, mencari makan Bersama, bahkan mereka juga bermain bersama.

Hingga pada suatu hari, mereka mendengar deru bunyi, dan tiupan angin kencang. Suara itu membuat Rusa yang sedang minum air danau lari terbirit-birit, bahkan angin kencang itu membuat sayap capung hampir patah.

Dari air yang seperti cermin, mereka melihat sesuatu sesuatu terbang di bawah awan yang mirip dengan bentuk capung.

Sepanjang hidup capung dan kawan-kawan belum pernah bertemu, atau dengar cerita tentang sesuatu yang baru mereka lihat itu. Capung segera terbang meninggalkan danau, terbang ke arah timur, hendak bertemu Elang. Elang punya cakar tajam dan paruhnya merah hitam seperti buah matoa matang, sayapnya kuat seperti dahan kayu besi, bulunya berwarna putih berbintik hitam.

Capung tiba di sana dan bertanya dengan  suara gemetar kepada elang. Kakek Elang yang sedang lahap menikmati daging kuskus, melepas cakar dari cengkraman tubuh kuskus dan menatap Capung. Ia maju selangkah dari tubuh kuskus yang sebagian sudah tinggal tulang. Ia kasih kode kepada Capung dengan paruhnya agar ia datang dan hinggap di sampingnya.

Capung buka sayap dan terbang, mendekat dan hinggap dan ia mendengar Kakek Elang berkata bahwa yang dia lihat adalah burung buatan manusia. Burung buatan manusia itu, tentu sangat mengganggu elang. Kakek Elang sudah beberapa kali melihatnya, dan ia tidak suka dengan bising suara dan kecepatannya.

Setelah pertemuan itu, Capung meninggalkan Elang. Ia berniat terbang seperti burung buatan manusia.  Ia bilang kepada dirinya bahwa dia mau belajar terbang. Setiap hari ia belajar terbang. Terbang dari satu daun ke daun lain. Ia menambah tinggi jangkauan terbangnya juga, tidak seperti teman-teman Capung yang hanya bermain di atas air.

Sambil bermain, mereka mengamati Capung. Mereka bilang kepadanya, biar Elang dan burung buatan manusia saja yang terbang tinggi, kita cukup begini saja. Namun Capung tetap berlatih, teman-temannya tidak percaya ia dapat terbang lebih tinggi dari tinggi pohon ketapang.

Ia cepeh berlatih dan capung duduk di daun teratai yang mengapung di atas perut air, yang sebagian daunnya tenggelam di air, yang tangkai besar menjulang tinggi ke awan, yang kelopak bunga besar berwarna putih kemerahan dan mekarnya menyerupai payung. Teratai hidup bahagia bersama air.

Tapi banyak serangga yang yang tidak suka padanya. Hanya Capung yang suka duduk dan merenungi impiannya di atas sehelai daun teratai, bernaung di bawah payung teratai, capung suka mengamati warna bunga teratai dan sering bertanya-tanya juga: bagaimana ia memiliki warna seindah ini?

Teratai senang bersama capung, dan ia mekar dan mengeluarkan aroma untuknya, dan kapanpun capung datng ia selalu menyiapkan tempat buatnya duduk dan bermenung. Teratai juga mendengar setiap keluh kesah Capung. Hingga suatu hari Teratai berkata, bahwa dia akan menghadiahkan capung daun miliknya. Daun itu akan menerbangkan dia setinggi-tingginya.

Teratai memberi satu daun miliknya kepada Capung, namun dengan  syarat Capung tidak boleh terbang tinggi dan jauh mendekat di tempat tinggal Elang. Capung terbang gunakan daun teratai, awalnya ia terbang rendah dan hinggap di atas daun ilalang, lalu terbang agak tinggi dan hinggap di atas daun sagu, lalu terbang tinggi dan hinggap di atas daun Ketapang. Setiap hari ia terbang makin tinggi, bahkan lebih tinggi dari tempat Elang tinggal.

Elang melihat Capung terbang, beberapa kali Capung terbang tinggi di sekitar wilayah Elang. Elang pun terbang mendekat dan melihat, ternyata Capung terbang menggunakan daun Teratai. Elang merampas, membawa pergi daun teratai lalu menyobek dan menghamburkan ke tanah.

Capung terbawa angin kencang seperti daun ketapang kering, lalu Capung terbawa jauh tidak tentu arah. Capung jatuh di semak-semak yang buat perutnya berdarah, sayap kirinya sobek ditusuk ranting kayu kering dan menjerit kesakitan.

Beberapa hari ia tidak sadarkan diri, tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali seekor semut. Semut datang membangunkan capung, dan ia menggotongnya ke tepi danau. Kemudian seekor katak membawa dan menidurkan tubuhnya di atas daun teratai. Teratai dan teman-temannya datang menghiburnya, Teratai mengobati luka, dengan ramuan, seketika luka di perut sembuh, sayapnya yang sobek pulih.

Capung menceritakan kejadian itu, ia memohon maaf kepada Teratai dan ia berjanji:  tidak akan lagi terbang dekat Elang tinggal. Teratai beri lagi daunnya. Capung terbang menggunakannya lagi tapi ia terbang rendah. Ia terbang jauh dan menaburkan benih teratai dari satu danau ke danau lain. Capung dan Kupu-kupu dan Belalang dan Laron sering menggunakan daun teratai untuk terbang bersama mencari makanan di tempat jauh, mereka terbang dari satu pohon ke pohon lain, terbang dan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Di tepi danau itu kini, mereka hidup bahagia, bersama Teratai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *