Kisah Keramat Riak

Pada zaman dahulu kala, ada seorang kakek tua berjalan tertatih sambil menggendong sebuah jala melewati pendopo istana kerajaan Keramat Riak. Si kakek terlihat begitu Lelah, ternyata ia baru saja pulang dari sungai mencari ikan. Ia memutuskan untuk duduk beristirahat di depan pendopo istana yang selalu dijaga ketat oleh orang prajurit Kerajaan, lalu jala milik Si kakek yang memakai pemberat dari rantai emas diletakkannya di tanah.

Rantai jala itu terlihat sangat berkilau terkena sinar matahari, bahkan menarik perhatian prajurit penjaga pendopo istana. Prajurit itu pun mendatangi kakek karena penasaran apa yang dilihatnya, sedangkan kakek yang kelelahan meminta izin untuk istirahat di pendopo istana.

Si kakek itu kemudian memasuki pendopo istana untuk melaksanakan shalat dhuhur,m sementara jala miliknya dibiarkan tergeletak di luar pendopo istana. Saat kakek tengah shalat, kedua prajurit penjaga merasa penasaran dengan jala si kakek. Keduanya melihat jala tersebut dengan seksama, ternyata dugaan mereka berdua benar bahwa rantai jala itu terbuat dari emas.

Namun, betapa terkejutnya mereka saat hendak mengangkat jala itu yang ternyata sangat berat dan seolah-olah menempel di tanah. Kemudian kedua prajurit tersebut bersama-sama berusaha mengangkat jala milik si kakek, namun jala itu tidak bergeser sedikit pun. Melihat keanehan itu, salah seorang dari prajurit tersebut segera bergegas memasuki istana untuk melaporkan kejadian aneh tersebut kepada Raja Riak Bakau. Mendengar laporan si prajurit, segera saja Raja Riak Bakau diiringi beberapa pengawalnya menemui si kakek tua pemilik jala. Raja Riak Bakau ternyata menginkan jala milik si kakek, namun kakek enggan memberikannya. Mendengar jawaban kakek, Raja Riak Bakau merasa sangat marah karena baru kali ini ada orang berani menolak permintaannya.

Si Kakek tidak takut terhadap ancaman Raja, ia tetap tidak mau memberikan jala emasnya kepada Raja Riak Bakau. Tentu saja, sikap si kakek membuat Raja Riak Bakau bertambah marah. Raja pun mengancam akan membawa sendiri jala milik kakek jika tidak diberikannya, namun si kakek justru meremehakan Raja Riak Bakau jika dia mampu membawanya.

Raja Riak Bakau naik pitam merasa diremehkan oleh kakek, kemudian ia segera mengangkat jala rantai emas dengan segenap kekuatannya. Namun anehnya, jala itu tidak bergerak sedikit pun. Walau ia telah memerintahkan beberapa prajuritnya untuk membantu mengangkatnya, namun tetap saja jala emas tidak bisa diangkat.

Walau demikian, Raja Riak Bakau tidak kehabisan akal. Raja lalu menyarankan mengadu ayam saja. Jika ayam aduannya kalah, kakek boleh memiliki semua harta serta kekuasaannya. Jika ayam aduan kakek kalah, jala rantai emas milik kakek harus menjadi milik Raja Riak Bakau.

Semula si kakek menolak, namun karena terus didesak oleh Raja Riak Bakau akhirnya ia pun menerima tantangan Raja. Akhirnya disepakati bahwa pertandingan sabung ayam akan dilaksanakan di depan istana tiga hari kemudian. Kabar mengenai pertandingan sabung ayam Raja Riak Bakau tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri.

Di hari yang telah ditentukan, pertandingan sabung ayam segera dimulai dengan disaksikan seluruh rakyat Negeri Keramat Riak. Si kakek tua membawa seekor ayam aduan bertubuh kurus, sedangkan ayam aduan milik Raja Riak Bakau bertubuh besar. Melihat ayam aduan si kakek tua, Raja Riak Bakau merasa yakin akan memenangkan pertandingan dengan mudah.

Begitu gong dibunyikan sebagai tanda pertandingan sabung ayam dimulai, Raja Riak Bakau dan si kakek tua segera melepaskan ayam aduan milik mereka masing-masing di arena pertarungan. Kedua ayam aduan langsung berhadap-hadapan untuk bertarung. Ayam aduan Raja Riak Bakau langsung menyerang secara bertubi-tubi, sehingga ayam aduan si kakek harus melompat ke sana-kemari menghindari serangan. Ayam si kakek tua sesekali jatuh terkena tendangan kaki ayam aduan Raja Riak Bakau, namun setelah beberapa lama adu ayam berlangsung, ayam aduan Raja Riak Bakau mulai kelelahan. Justru kini ayam aduan kakek tua yang menyerang secara ganas. Hanya sekali tendang, ayam aduan Raja Riak Bakau langsung jatuh.

Ayam aduan Raja Riak Bakau akhirnya tidak dapat melanjutkan pertarungan. Walaupun ayam aduannya kalah, Raja Riak Bakau masih belum bisa menerima kekalahannya. Raja tentu saja tidak ingin kehilangan seluruh kekuasaannya. Kemudian ia menantang lagi kakek tua untuk bertarung, tapi si kakek kembali menolak tantangan raja.

Sebelum pergi, kakek tua mampir terlebih dahulu untuk melaksanakan shalat di pendopo istana, sementara jala emas miliknya ia diletakkan di depan pendopo. Ternyata, diam-diam Raja Riak Bakau bersama pengawalnya membuntuti si kakek. Raja masih berminat untuk memiliki jala rantai emas.

Saat melihat kakek tua tengah khusyuk shalat, Raja Riak Bakau segera menusuk tubuh si kakek dari belakang. Walau terluka parah, ajaibnya si kakek masih dapat menyelesaikan shalatnya. Usai mengucapkan salam, kakek kemudian mengambil lidi. Lidi tersebut ia tancapkan di empat sudut pendopo istana. Si kakek tua kemudian pergi meninggalkan negeri Keramat Riak dalam kondisi terluka parah. Setelah si kakek pergi, beberapa prajurit berusaha mencabut lidi itu, namun tidak seorang pun berhasil.

Akhirnya, terpaksa Raja Riak Bakau sendiri yang mencabutnya. Begitu lidi-lidi tersebut tercabut, air menyembur keluar dengan derasnya. Makin lama semburan air semakin deras sehingga dalam waktu sekejap air menggenangi seluruh negeri Keramat Riak.

Seluruh rakyat Keramat Riak berhamburan berusaha menyelamatkan diri. Ada yang berlari ke gunung, sedangkan Raja Riak Bakau beserta pengikutnya berusaha memanjat pohon tinggi agar tidak terkena luapan air yang sudah hampir menenggelamkan seluruh negeri Keramat Riak.

Raja Riak Bakau beserta pengikutnya yang memanjat ke atas pohon berhasil selamat dari banjir. Akan tetapi, Tuhan murka kepada perbuatan keji mereka. Tiba-tiba langit menjadi gelap, dan beberapa saat kemudian hujan deras turun disertai angin kencang. Raja Riak Bakau yang berada di atas pohon beserta pengikutnya terombang-ambing diterpa angin kencang.

Pada saat itulah terdengar suara misterius menggema dari balik awan. Setelah suara misterius hilang, tiba-tiba Raja Riak Bakau dan seluruh rakyatnya yang selamat menjelma menjadi kera. Kemudian hujan deras menjadi reda, cuaca kembali cerah dan air mulai surut sehingga yang terlihat hanya kera-kera bergelantungan di atas pohon. Lama-kelamaan negeri Keramat Riak berubah menjadi sebuah hutan rimba yang dihuni oleh kawanan kera. Sementara, si kakek tua misterius telah menghilang entah ke mana.

Beberapa tahun kemudian, beberapa awak kapal dari Cina mendarat di hutan lebat Keramat Riak. Konon, mereka adalah para pedagang yang pernah ditolong oleh si kakek tua misterius. Mereka datang untuk memenuhi pesan sang kakek agar dibuatkan makam di Keramat Riak. Mereka pun membuat sebuah makam megah di hutan Keramat Riak. Pada nisan makam tertulis, Syekh Abdullatif, yang konon merupakan nama dari kakek misterius. Selanjutnya, masyarakat menyebut makam Syekh Abdullatif dengan nama makam Keramat Riak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *