| by teloletom | No comments

Kisah Putri Mawar

Di suatu kerajaan, hidup seorang putri yang cantik jelita. Dia memiliki rambut merah yang panjang dan sangat menyukai bunga mawar sehingga semua orang memanggilnya Putri Mawar.

Setiap malam setelah matahari terbenam, sang Putri mawar selalu pergi ke balkon istana sambil bertepuk tangan. Seekor burung emas datang entah dari mana dan turun di bahu sang Putri. Saat itu juga, rambut sang Putri mulai bersinar dengan cahaya merah yang cemerlang. Ketika burung itu mulai melantunkan sebuah lagu yang mempesona, sang Putri mawar juga ikut bernyanyi dan semua orang di kerajaan itu tertidur dan bermimpi indah hingga fajar terbit. Itulah yang  oleh sang Putri Mawar selama bertahun-tahun.

Setiap malam Putri Mawar bersama dengan burung emas kecil selalu menyanyikan lagu penghantar tidur yang penuh dengan kasih, sehingga semua orang tertidur dan memiliki mimpi indah hingga fajar menyingsing.

Namun suatu hari, ada suatu hal mengerikan yang erjadi. Seorang penyihir jahat ingin mengutuk sang Putri Mawar.

“Abrakadabra, simsalabim, semoga warna mawar pada rambut sang Putri Mawar redup!” Kata penyihir itu, dan rambut Putri Mawar pun langsung berubah menjadi hitam.

Malam itu juga, sang Putri Mawar keluar ke balkon dan bertepuk tangan. Tetapi ketika burung emas itu muncul, rambutnya bercahaya hitam bukannya merah. Burung itu menyanyikan melodi yang mempesona dan sang Putri Mawar menyanyikan lagu penghantar tidurnya. Semua orang di kerajaan tertidur, tetapi malam itu mereka hanya memiliki mimpi yang buruk.

Di keesokan harinya, sang Putri Mawar yang sedih bertanya kepada burung itu. “Katakan burung emas, bagaimana aku bisa membuat mimpi rakyat bangsaku begitu manis lagi hingga fajar menyingsing?”

“Rambut hitam di air mawar,” jawab burung itu.

Sang Putri bertanya-tanya tentang nasehat burung itu, namun sang Putri tetap menuruti saran dari sang burung. Sang Putri mengisi baskom dengan air dan menaburkan kelopak mawar di permukaannya. Kemudian, dia mencelupkan rambutnya ke dalam air mawar, kemudian langsung berubah menjadi merah lagi.

Malam itu, ketika burung itu bertengger di bahunya, cahaya merah rambutnya yang bercahaya menerangi langit malam lagi. Sang Putri menyanyikan lagu penghantar tidurnya, dan semua orang di kerajaan itu tertidur dan bermimpi indah lagi hingga fajar menyingsing.

Sang Penyihir yang jahat itu menjadi sangat marah ketika melihat rambut sang Putri kembali bersinar merah, sehingga dia memutuskan untuk mengutuknya lagi.

“Abrakadabra, simsalabim, semoga warna merah mawar pada rambut sang Putri redup lagi!” Dan rambut sang Putri pun kembali berubah menjadi hitam lagi. Hanya saja kali ini sang penyihir mengambil semua bunga mawar di seluruh kerajaan, agar sang Putri tidak dapat mengembalikan warna merah pada rambutnya.

“Mari kita lihat bagaimana kamu akan mematahkan kutukanku sekarang!” sang Penyihir mencibir dengan penuh amarah.

Sekali lagi, sang Putri yang sedih bertanya pada burung itu. “Katakan burung emas, bagaimana aku bisa membuat mimpi bangsaku begitu manis lagi hingga fajar terbit?”

“Rambut hitam di air mawar,” jawaban sang burung itu masih sama seperti sebelumnya.

“Tapi di mana aku harus menemukan bunga mawar?”

“Rambut hitam di air mawar,” burung itu berkicau dan terbang menjauh dari sang Putri.

Sang Putri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sangat bersedih hingga matanya mengeluarkan air mata, salah satu tetesan air mata itu jatuh ke tanah di bawahnya. Pada saat itu, seorang pangeran muda tampan yang berhenti di bawah balkon sang putri, mengeluarkan sebuah kotak kecil dan sehelai rambut merah dari dalamnya. Dia membungkuk dan meletakkan rambut itu di atas air mata sang putri. Kemudian, keajaiban terjadi. Tiba-tiba, rambut hitam sang Putri berubah menjadi mawar merah. Sang pangeran mengambil mawar dan membawanya ke sang putri.

Setelah sang Putri melihat mawar, dia segera menyeka air matanya dan memetik kelopak mawar dan diletakkan di atas air di baskom. Kemudian, dia mencelupkan rambutnya ke dalam, dan kutukan itu pun patah. Semua orang terengah-engah, dan sang Raja bertanya pada sang pangeran.

“Anak muda, di mana kamu menemukan rambut merah itu?”

“Ketika sang Putri dan aku sama-sama masih anak-anak, aku mengambil sehelai rambut dari kepalanya sebagai tanda kesetiaanku padanya. Dan dia juga melakukan hal yang sama kepadaku, mencabut sehelai rambutku.”

“Itu benar, Ayah,” sang Putri meyakinkan Ayahnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia membukanya untuk mengambil sehelai rambut dari kepala Pangeran di dalamnya.

Semua orang senang dengan berita tersebut. Sang Pangeran dan sang Putri Mawar akhirnya menikah pada hari yang sama.

Setelah mengetahui bahwa kutukannya telah dipatahkan lagi, kejahatan penyihir jahat memuncak sedemikian rupa sehingga dia meledak menjadi keping-kepingan kecil. Akhirnya, bunga mawar mulai tumbuh kembali di setiap taman di kerajaan. Selanjutnya, setiap malam sang Puteri Mawar selalu menyanyikan lagu penghantar tidurnya yang penuh kasih, sehingga semua orang tertidur dan bermimpi indah hingga fajar menyingsing.