| by teloletom | No comments

Kisah Putri Tanabata

Pada jaman dahulu kala, di suatu desa hiduplah seorang pemuda. Ia hidup dengan mengumpulkan kayu bakar di gunung atau membajak ladang. Pada suatu hari, pemuda itu menemukan benda yang aneh di tengah perjalanan pulang dari ladang. Benda yang dia temukan ternyata sebuah pakaian, dia belum pernah melihat pakaian yang seindah itu. Dalam benaknya pun timbul keinginan untuk memiliki pakaian itu, kemudian ia memasukkan pakaian itu ke dalam keranjang dengan hati-hati dan bersiap pulang ke rumah.

Namun, saat hendak melangkahkan pergi, tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita. Saat itu juga dari semak-semak dekat kolam keluar seorang wanita yang berwajah cantik jelita. Pemuda itu menjadi terkejut dan terpesona dengan kecantikan wanita itu. Dengan wajah sedih dan hampir menangis, wanita itu meminta pakaiannya kepada si pemuda itu. Dia pun menjelaskan bahwa dia adalah bidadari, dan tanpa pakaiannya itu dia tidak bisa kembali ke langit.

Si Pemuda tidak mengatakan bahwa ia yang menyembunyikan pakaian bidadari, dan akhirnya terus berpura-pura. Bidadari yang tidak bisa kembali ke langit itu terpaksa harus tinggal di bumi dengan hati berat. Setelah itu ia pergi ke rumah pemuda dan mulai hidup bersama dengan pemuda, bidadari itu bernama Tanabata. Setelah lama hidup bersama, rasa cinta diantara pemuda dan bidadari itu pun mulai muncul. Pada akhirnya, si pemuda dan Tanabata menikah dan menjadi sepasang suami istri.

Beberapa tahun telah dilalui oleh mereka. Pada suatu hari, saat si pemuda pergi bekerja di ladang, Tanabata melihat seekor merpati mematuki retakan balok di langit-langit. Merpati itu menarik keluar suatu benda, Tanabata kemudian mendekati merpati itu untuk mengusirnya keluar. Namun, alangkah terkejutnya saat ia melihat benda yang ditarik oleh merpati itu ternyata pakaian bidadarinya. Jika dia memakai pakaian bidadari itu, maka dengan segera ia akan kembali menjadi bidadari. Di dalam hatinya, Tanabata merasa telah kembali menjadi penghuni kahyangan.

Saat hari sudah sore, pemuda yang pulang dari ladang terkejut melihat Tanabata yang berdiri di depan rumah. Ketika melihat pakaian bidadari itu, si pemuda segera mengerti apa yang terjadi.

“Sayangku, kalau kamu merasa mencintaiku, anyamlah seribu pasang sandal jerami dan kuburkan di sekitar pohon bambu. Dengan demikian, kita pasti akan bertemu lagi. Tolong…, lakukanlah…. Aku akan menunggu.” Ujar Tanabata

Setelah mengatakan itu, Tanabata kemudian terbang semakin tinggi dan kembali ke langit. Setelah kepergian Tanabata, pemuda itu merasa sedih sekali. Kemudian mulai keesokan harinya, ia segera mulai menganyam sandal jerami. Ia terus-menerus menganyamnya sepanjang hari. Setiap kali menghitung sandal jerami yang dianyam, ia berkata ‘belum cukup’, dan terus menganyam lagi, lalu menghitungnya lagi. Demikian berulang-ulang. Pada suatu hari, akhirnya ia selesai mengubur seribu pasang sandal jerami di sekitar pohon bambu. Setelah ia selesai mengubur sandal jerami itu, bambu itu langusng membesar dengan cepat dan tumbuh tinggi ke langit dengan kokoh.

Si pemuda dengan cepat mulai memanjat bambu yang menjulang tinggi itu. Pada saat jaraknya tinggal sedikit lagi untuk mencapai langit, ia tidak bisa menjangkaunya.

Ternyata saat menganyam sandal jerami dengan perasaan ingin bertemu Tanabata, sandal jerami yang seharusnya dikubur sebanyak 1000 pasang dia hanya mengubur 999 pasang saja. Jadi, tinggal selangkah lagi ia bisa menjangkaunya.

Suara pemuda yang memanggil Tanabata pun sampai ke telinga Tanabata yang sedang memintal dengan alat tenun di atas langit. Ia mencoba mengintip dari atas awan, da ternyata betul itu suara suaminya yang tercinta. Tanabata pun mengulurkan tangannya, dan mengangkat si pemuda itu naik ke atas awan.

Mereka meraih tangan satu sama lain dan merasa bahagia setelah lama berpisah. Pada saat itu, muncullah muka seorang laki-laki di sela-sela awan. Ia adalah ayah Tanabata.

Ayah Tanabata ternyata tidak suka jika putrinya itu telah menikah dengan laki-laki dari dunia bawah. Karena itu, ayah Tanabata berpikir untuk menyuruh si pemuda itu melakukan pekerjaan yang sulit agar menyusahkan si pemuda.

Ayah Tanabata menyuruh si pemuda itu menaburkan biji-biji di ladang dalam kurun waktu tiga hari. Pemuda itu berusaha semaksimal mungkin, dan ia pun selesai menaburkan biji-biji dalam tiga hari seperti yang diminta oleh ayah Tanabata. Tapi ayah Tanabata berkata, seharusnya dia menaburkan biji di ladang satunya.

Pemuda itu menjadi sangat kecewa, Tanabata yang melihat keadaan itu menjadi ingin membantu suaminya. Kemudian ia meminta bantuan seekor merpati. Merpati itu kemudian memanggil kawan-kawannya dan mematuki biji-biji di ladang. Setelah itu, kawanan merpati terbang ke atas sawah dan menaburkan biji-biji itu dari atas. Akhirnya, pekerjaan itu berhasil selesai dalam sekejap mata.

Kali ini Ayah Tanabata yang merasa kesal, meminta pemuda itu untuk melakukan pekerjaan yang lebih sulit lagi. Ia meminta si pemuda untuk menjaga ladang labu selama tiga hari tiga malam, saat menjaga ladang labu biasanya akan merasa sangat haus. Tetapi kalau labu itu dimakan, akan terjadi masalah yang gawat.

Walau si Pemuda telah diberitahu oleh Tanabata, ia tidak bisa menahan rasa hausnya. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan memakan buah labu itu. Dalam sekejap, air tumpah dari labu itu. Air yang tumpah dari labu itu menjadi sungai dan mulai mengalir mengeluarkan suara bergemuruh.

Seketika itu juga, Tanabata dan si pemuda terpisah secara tiba-tiba. Dengan demikian, sosok dua orang yang berhadapan mengapit sungai itu menjadi bintang Altair dan Vega. Kedua orang ini mendapat izin ayah Tanabata untuk bertemu hanya satu kali dalam setahun, yaitu saat malam hari tanggal 7 Juli. Kedua bintang itu sampai sekarang pun masih berkilau indah, mengapit bimasakti.