| by teloletom | No comments

Kisah Ratu Dan Si Tikus

Dikisahkan, ada seorang Raja jahat dari negeri yang jauh menyerbu negeri tempat seorang Ratu memerintah. Sang Raja menyerang dan menahan sang Ratu dan bayi perempuannya sebagai tawanan. Ketika sang Raja kembali ke kerajaannya, dia mengurung sang Ratu dan bayi perempuannya di ruangan tertinggi di menara tinggi. Ruangan itu sangat kecil dan kosong, hanya ada satu meja dan tempat tidur yang keras.

Kemudian sang Raja memanggil sang peri yang tinggal di dekat kerajaannya. Dia mendorong Peri untuk ke kamar sang Ratu. Sang Peri terenyuh melihat kondisi sang Ratu yang menyedihkan. Ketika dia mencium tangan sang Ratu, sang Peri berbisik padanya, “Jangan takut, nyonya! Kurasa aku tahu cara untuk membantumu.”

Kemudian sang Raja jahat itu berteriak dengan keras, “Diam!” Dia berkata pada sang Peri. “Aku membawamu ke sini karena satu alasan. Katakan padaku, apakah bayi perempuan ini akan tumbuh menjadi pengantin yang layak untuk putraku?”

Sang Peri menjawab bahwa memang, sang Putri akan tumbuh dengan rahmat, kecerdasan, dan daya tarik dalam segala hal yang layak menjadi singgasana. Sang Raja itu menggeram kepada sang Ratu bahwa mereka berdua beruntung karena sang Peri mengatakan itu. Dia akan menyelamatkan hidup bayi untuk menjadi calon mempelai bagi putranya. Dari menara ruangan tertinggi, sang Peri dan sang Ratu bisa mendengar putra Raja berteriak dan menuntut agar para pelayannya melakukan banyak hal. Raja bergemuruh bahwa jika Peri membuat ramalan yang berbeda, baik bayi dan ibunya akan segera digantung. Kemudian, sang raja pun pergi membawa sang Peri dan meninggalkan sang Ratu yang malang.

“Bagaimana aku bisa berharap putriku tumbuh, jika hanya untuk menikah dengan putra sang Raja yang mengerikan!” dia menangis. “Namun jika dia bernasib buruk, kita berdua akan dikutuk sekarang. Andai saja aku dapat menyembunyikannya di suatu tempat, di mana saja! Pasti ada tempat yang aman di mana sang Raja itu tidak dapat menemukannya.” Tapi di mana bayi itu bisa disembunyikan, karena mereka terjebak dalam ruangan di puncak menara?

Seiring waktu, sang Ratu dan Putri semakin kurus. Setiap hari, sipir penjara memberi mereka tiga kacang polong rebus untuk dimakan dan sepotong kecil roti hitam, sehingga mereka selalu merasa lapar. Akhirnya, pada suatu malam, ketika sang Ratu duduk di atas roda pemintalnya dia melihat seekor tikus kecil yang sangat cantik keluar dari sebuah lubang. Dia berkata kepada tikus itu, “Aduh, tikus kecil! Kenapa kamu datang ke sini? Kami hanya memiliki tiga kacang polong. Sebaiknya kamu pergi ke tempat lain untuk mencari makananmu.”

Tetapi tikus itu berlari ke sana kemari, menari dan berputar dengan sangat cantik, sehingga sang Ratu bertepuk tangan dan tertawa dengan gembira. Akhirnya dia memberikan kacang polong terakhirnya untuk sang tikus itu yang seharusnya dia simpan untuk makan malamnya, sang Ratu berkata, “Ini, tikus kecil. Maafkan aku, karena hanya ini yang bisa aku tawarkan padamu. Tarianmu sangat bagus dan layak mendapatkan lebih dari kacang polong kecil yang keriput ini.”

Pagi harinya, sipir atau seorang penjaga membawa makanan harian untuk sang Ratu dan sang Putri masing-masing tiga kacang. Kemudian setelah sipir itu pergi, sang Ratu memberikan ketiga kacang polongnya kepada sang tikus.

Piring kosong itu langsung ditutupi dengan segala macam hal-hal indah untuk dimakan dan sang Ratu berbagi pesta dengan putrinya. Tetapi setelah itu, ketika dia duduk di roda pemintalannya, dia mulai khawatir kalau makanan enak itu bisa berakhir kapan saja dan bahkan bisa saja putrinya yang berharga ditakdirkan untuk hidup sebagai tahanan dan dipaksa untuk menikah dengan sang Pangeran yang mengerikan itu ketika dia dewasa nanti.

Sang Ratu mulai putus asa, “ andai aku bisa menyelamatkannya!”

Ketika dia berbicara, dia memperhatikan tikus kecil itu bermain di pojokan dengan sedotan yang panjang. Sang Ratu mulai mengepang sedotan dan berpikir, “Jika aku punya sedotan yang cukup banyak, aku bisa membuat keranjang untuk putriku dan si tikus. Kemudian aku taruh putriku di keranjang dan menurunkannya lewat jendela, semoga ada orang baik hati yang dapat merawatnya dan membesarkannya agar terbebas dari tahanan.”

Saat dia selesai berpikir, sang tikus kecil itu telah menyeret lebih banyak dan lebih banyak lagi, hingga sang Ratu punya banyak sedotan untuk membuat keranjang. Sang Ratu bekerja keras pada malam itu, sementara sang tikus kecil menari-nari untuk menghiburnya. Pada waktu makan siang dan makan malam, sang Ratu memberi tikus tiga kacang dan sedikit roti.

Keranjang itu pun selesai dikerjakan oleh sang Ratu. Sang Ratu sedang memandang ke luar jendela untuk melihat berapa panjang sedotan yang harus dibuatnya untuk menurunkan keranjang ke bawah menara. Saat dia melihat seorang wanita tua kecil di bawah bersandar pada tongkatnya dan menatapnya, wanita tua itu berkata, “Saya tahu masalahmu, Nyonya. Jika mau, saya dapat membantumu.”

“Oh, nona sayang!” kata sang Ratu. “Jika kamu ingin membantuku, aku akan memberitahumu saat waktu yang tepat, dan aku akan menurunkan bayi kecilku yang malang yang ada di dalam keranjang dan juga rawatlah bayiku ini dengan baik. Ketika aku sudah bebas dari sini, aku akan mengambil anakku kembali dan aku akan membalas semua kebaikanmu. “

“Aku tidak peduli dengan hadiah apa pun, nyonya,” kata wanita tua itu. “Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan merawat putrimu dengan sangat baik dan penuh perhatian. Tetapi ada satu hal yang saya inginkan darimu. Kamu harus tahu kalau makananku sangat khusus yang tidak lain adalah tikus yang manis dan montok. Jika di keranjangmu terdapat tikus, berikanlah padaku, karena hanya itu yang kuminta. “

Nah, ketika sang Ratu mendengar hal itu, dia mulai menangis. Setelah menunggu beberapa menit, wanita tua itu bertanya ada apa.

Sang Ratu menjawab, “Hanya ada satu tikus di keranjang ini, dan tikus ini sangat manis, pintar dan lucu jadi aku tidak tega membiarkan tikus itu dibunuh dan dimakan kamu.”

“Apa!” teriak wanita tua itu dengan marah. “Kau lebih peduli pada tikus daripada bayimu sendiri? Selamat tinggal, nyonya! Aku akan pergi untuk mencari tikus sendiri dan membiarkanmu diatas menara sana. Aku berterima kasih pada karena aku bisa mendapatkan banyak tikus tanpa mengganggu orang sepertimu! “

Malam itu saat bayi Ratu tertidur lelap, dia mengemasnya ke dalam keranjang dan menulis di selembar kertas, “Ini bayi perempuanku yang tercinta tetapi tidak seberuntung anak yang lain. Tolong besarkan dia dengan penuh kelembutan, cinta dan kasih sayang.” Dia menempelkan pada jubah bayi itu. Sang Ratu sangat sedih saat menutup keranjang itu. Tiba-tiba sang tikus melompat.

“Ah, si kecil!” kata sang Ratu. “Hari ini aku telah menyelamatkan nyawamu, kenapa kamu bertingkah melompat seperti ini.”

Si Tikus menjawab, “Percayalah, Nyonya, kamu tidak akan menyesali kebaikanmu karena menyelamatkan hidupku.”

Sang Ratu sangat tercengang saat sang tikus berbicara dan terlebih lagi saat dia melihat hidungnya yang kecil dan tajam itu berubah menjadi wajah yang menawan dan cakarnya menjadi tangan dan kaki. Kemudian tumbuh tinggi dan sang Ratu mengenali Peri yang waktu itu datang ke kamar menara dengan Raja jahat untuk mengunjunginya.

Sang Peri tersenyum melihat sang Ratu yang heran. Kata Peri, “Aku ingin melihat apakah kamu mampu menjalin pertemanan sejati sebelum aku membantumu. Kamu tahu, kita peri kaya akan segalanya kecuali teman dan teman sejati susah ditemukan.”

Sang Ratu bersandar, berkata pada sang Peri, “Aku tidak percaya kamu kekurangan teman, kamu makhluk yang menawan.”

“Tapi memang begitu,” kata Peri. “Karena banyak yang bersahabat dengan Peri hanya demi keuntungan mereka sendiri. Tetapi kamu tetap melindungi tikus kecil yang malang ini walaupun kamu tidak tahu ada sesuatu yang bisa didapat darinya. Untuk mengujimu, aku merubah diriku dalam bentuk wanita tua yang kamu ajak bicara dari jendela. Aku menggodamu untuk meninggalkan teman tikus kecil itu. Tetapi hal itu tidak kamu lakukan! Lalu aku menyadari kalau kamu memang mampu menjalin persahabatan sejati. “

Beralih ke Putri kecil, sang Peri mencium bibirnya yang kemerahan sebanyak tiga kali. Sang Putri bergemuruh dan terkikik.

“Si kecil sayang,” kata sang Peri kepada bayi perempuan itu. “Aku akan membawamu dan ibumu ke pondokku yang sangat indah dan jauh dari kerajaan. Di sana kalian tidak akan terlihat oleh orang lain termasuk sang Raja dan kamu akan tumbuh dewasa dengan aman dan bebas dan akan selalu bersama ibumu. “

Dalam sekejap, sang Peri, sang Ratu, dan bayinya menghilang dan tidak kembali lagi.