
Dikisahkan, di sebuah daerah di Sulawesi Tenggara, Indonesia, hidup seorang janda cantik bernama Wa Roe bersama anak laki-lakinya yang bernama La Sirimbone. Mereka tinggal di sebuah gubuk di pinggir kampung. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, Wa Roe bekerja mencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar.
Pada suatu ketika, datang seorang pedagang kain dari negeri seberang yang bernama La Patamba. Ia menawarkan barang dagangannya dari satu rumah ke rumah lainnya. Ia memulainya dari sebuah gubuk yang terletak di paling ujung kampung itu, yang merupakan tempat tinggal Wa Roe. La Patamba terkejut saat melihat penghuni gubug itu adalah seorang perempuan cantik jelita.
Dengan gugup, La Patamba menawarkan kain dagangannya kepada Wa Roe. Namun, Wa Roe tidak membeli karena tidak memiliki uang. Setelah itu, La Patamba menawarkan dagangannya ke penduduk lainnya. Dalam perjalanan berkeliling kampung, wajah Wa Roe selalu terbayang-bayang dibenaknya.
Saat hari mulai gelap, La Patamba kembali ke rumahnya di negeri seberang. Keesokan harinya, La Patamba kembali ke kampung itu. Namun ia kembali bukan untuk berdagang, melainkan ingin meminang Wa Roe. Untuk menghargai warga di kampung, La Patamba terlebih dahulu meminta restu kepada sesepuh kampung dan meminta tolong untuk menemaninya meminang Wa Roe. Setelah mendapatkan restu, berangkatlah La Patamba bersama sesepuh kampung ke tempat Wa Roe.
Mendengar hal itu, Wa Roe terdiam sejenak. Ia tidak menyangka, La Patamba mengambil keputusan ingin menikah dengannya. Padahal, ia baru bertemu dan belum saling mengenal. Sebenarnya, Wa Roe tidak terlalu memikirkan dirinya, tapi ia mengkhawatirkan anaknya. Setelah berpikir, Wa Roe bersedia menerima pinangan La Patamba.
Mendengar jawaban dari Wa Roe, sesepuh kampung itu pun balik bertanya kepada La Patamba tentang syarat yang diajukan Wa Roe itu. Wa Roe pun terbuai dengan ucapan manis La Patamba, akhirnya mereka pun menikah. Awalnya mereka hidup bahagia, La Patamba sangat menyayangi La Sirimbone seperti anak kandungnya sendiri. Setiap pulang dari berdagang kain dari satu kampung ke kampung lainnya, ia selalu membawakan oleh-oleh. Namun, kebahagiaan itu hanya berjalan satu bulan. La Patamba tiba-tiba membenci anak tirinya tanpa alasan, hampir setiap hari ia memarahi dan memukuli La Sirimbone. Bahkan, ia menyuruh istrinya agar membuang La Sirimbone ke tengah hutan. Namun, Wa Roe menolak perintah itu.
Wa Roe dan anaknya menjadi takut dengan kamarahan La Patamba. Akhirnya, Wa Roe pun memutuskan untuk membuang anaknya ke tengah hutan dan mempersiapkan bekal untuknya. Sambil mempersiapkan bekal, air matanya membasahi pipinya, karena sedih memikirkan nasib anaknya yang malang. Keesokan harinya, berangkatlah La Sirimbone menuju hutan. Setelah melewati tujuh buah lembah dan tujuh buah gunung, mereka pun berhenti di sebuah hutan lengang dan sepi.
Setelah Ibunya pergi, La Sirimbone pun melanjutkan perjalanannya menelusuri hutan dan lembah. Sudah tujuh hari tujuh malam ia berjalan sendiri dan sudah tujuh lembah dan gunung yang ia lewati. Pada suatu hari, saat menyusuri sebuah hutan, La Sirimbone menemukan tapak kaki manusia yang sangat besar.
Karena penasaran, ia mengikuti tapak kaki raksasa itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia dikejutkan oleh suara gemuruh. Alangkah terkejutnya ia saat mendekati sumber suara itu, ia melihat seorang raksasa perempuan yang sedang menumbuk. Ia pun menjadi ketakutan dan segera mendekap dibetis raksasa perempuan itu.
Dengan takut, La Sirimbone pun menceritakan tentang dirinya dan semua yang dialaminya hingga sampai di hutan. Mendengar cerita itu, raksasa perempuan itu merasa iba dan mengajak La Sirimbone untuk tinggal di rumahnya. La Sirimbone lalu dimasukkan ke dalam sebuah kurungan.
La Sirimbone pun menuruti perintah raksasa perempuan itu karena takut dimakan oleh raksasa laki-laki. Demikianlah, setiap hari La Sirimbone tinggal di dalam kurungan hingga tumbuh dewasa. Karena jenuh tinggal di dalam kurungan, La Sirimbone meminta izin untuk pergi berjalan-jalan dan berburu binatang di dalam hutan itu. Ia pun diizinkan dan dibuatkan panah oleh raksasa perempuan itu. Setelah setengah hari berburu, ia pun memperoleh banyak binatang buruan.
Tiga hari kemudian, La Sirimbone kembali meminta izin untuk pergi menangkap ikan di sungai. Ia pun diizinkan dan dibuatkan bubu oleh raksasa perempuan itu. Bubu itu kemudian ia pasang di sungai. Ia sangat gembira, karena banyak ikan yang terperangkap ke dalam bubunya. Sebelum pulang, ia memasang kembali bubunya di sungai itu. Keesokan harinya, La Sirimbone kembali ke sungai itu untuk memeriksa bubunya. Namun, ia terkejut saat melihat bubunya kosong tidak seekor ikan pun yang terperangkap.
Lalu, ia kembali memasang bubunya. Keesokan paginya, ia pergi ke sungai itu untuk memeriksa bubunya. Saat sampai di sungai, ia melihat jin sedang mengangkat bubunya. Karena kesal, La Sirimbone pun menyerang jin itu dan terjadilah perkelahian antara jin dan La Sirimbone. Dalam perkelahian itu, La Sirimbone berhasil mengalahkan dan menangkap jin itu. La Sirimbone tidak mau melepaskannya, hingga akhirnya jin itu berjanji akan memberikan sebuah jimat berupa cincin yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit dan bahkan mampu menghidupkan orang mati.
Setelah menerima jimat itu, La Sirimbone segera kembali dengan menyusuri tepi sungai. Di tengah perjalanan, ia melihat seekor babi yang sedang berjalan di atas air. Kemudian babi itupun memberikan jimat kalungnya kepada La Sirimbone. Setelah La Sirimbone mengalungkan jimat itu ke lehernya, ia bisa berjalan di atas air. Tidak beberapa lama berjalan, ia bertemu dengan seorang nelayan yang sedang menangkap ikan.
Karena tertarik, La Sirimbone pun meminta keris itu kepada si nelayan. Si nelayan pun memberinya dengan sukarela. Setelah itu, La Sirimbone kembali ke darat untuk meneruskan perjalanannya dengan menyusuri hutan. Di tengah perjalanan, ia bertemu rombongan yang sedang mengusung jenazah. Ia pun memerintahkan rombongan itu untuk menurunkan jenazah itu dari usungannya. Setelah membuka kain kafan jenazah itu, ia segera menggosokkan cincin pemberian jin di pusar jenazah itu. Seketika itu pula, jenazah itu hidup kembali. Semua pengantar jenazah tercengang melihat peristiwa itu. Setelah itu, La Sirimbone pulang ke rumah raksasa perempuan. Sesampainya di rumah raksasa perempuan, La Sirimbone pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya.
Pada hari berikutnya, La Sirimbone kembali meminta izin kepada raksasa perempuan untuk pergi berburu binatang di tempat yang agak jauh. Raksasa perempuan pun mengizinkannya, karena sudah tidak khawatir lagi dengan La Sirimbone yang telah memiliki beberapa senjata pusaka. Setelah berpamitan, ia pun berangkat dengan menyusuri hutan dan lembah. Saat melewati sebuah perkampungan, La Sirimbone memutuskan untuk beristirahat dan meminta air minum kepada penduduk kampung karena kehausan. Ia berhenti di depan sebuah rumah yang pintunya sedikit terbuka, ia berharap penghuni rumah itu ada di dalam.
La Sirimbone terkejut saat melihat seorang gadis cantik jelita muncul dari dalam rumah. Namun, wajah gadis cantik itu terlihat murung dan gelisah. Kemudian, gadis itu kembali sambil membawa segelas air minum dan memberikannya kepada La Sirimbone. La Sirimbone lalu berkenalan dengan gadis itu yang bernama Wa Ngkurorio, dan ia pun menanyakan kenapa dia bersedih. Ternyata gadis itu sedang menunggu giliran dimakan oleh seekor ular naga, ketujuh saudaranya sudah dimakan oleh ular naga. Yang hidup sekarang tinggal saya, ayah dan ibu saya,” jelas Wa Ngkurorio dengan sedih.
Menjelang sore hari, ular naga itu datang ke rumah Wa Ngkurorio. Mengetahui hal itu, gadis itumenggigil ketakutan, sedangkan La Sirimbone terlihat tenang. Saat ular naga itu hendak masuk ke dalam rumah, La Sirimbone segera berbisik kepada keris pusakanya. Dengan cepat keris itu meluncur masuk ke dalam perut ular naga itu. Dalam sekejap, ular naga itu pun mati seketika, karena seluruh isi perutnya dikoyak-koyak oleh keris itu.
Wa Ngkurorio takjub melihat keampuhan keris pusaka La Sirimbone. Ia pun berterima kasih kepada La Sirimbone, karena telah menyelamatkan nyawanya. Kemudian, para penduduk pun berdatangan ingin melihat ular naga yang sudah mati itu. Mereka sangat gembira, karena kampung mereka kini aman dari ancaman ular naga pemakan manusia itu. Untuk merayakan kegembiraan itu, mereka mengadakan pesta besar-besaran, dan untuk membalas jasa La Sirimbone, penduduk kampung menikahkan La Sirimbone dengan Wa Ngkurorio. Akhirnya, La Sirimbone tinggal di kampung itu dan hidup bahagia bersama Wa Ngkurorio.