Naga Kecil Yang Kesepian

Dikisahkan, ada seekor naga kecil bernama Acho yang belum lama ditinggal mati kedua orang tuanya. Tidak ada yang lebih menyedihkan selain ditinggal oleh orang terdekat yang selama ini selalu hadir di tengah-tengah kehidupan, bahkan kepergiannya mampu membuat tangis serta menguras air mata. Namun, hidup harus tetap berlanjut walau bayang-bayang orang tersayang itu masih saja menghantui.

Acho hanya terdiam memandang pusara kedua orang tuanya yang belum lama berpulang akibat ulah pemburu. Tatapan mata Acho kosong, bahkan air matanya tidak kunjung mengering. Hatinya pun seolah masih belum rela melepas kepergian kedua orangtuanya.

Acho terlihat berulang kali menyumpahi diri sendiri akibat tidak ikut menemani kedua orangtuanya saat kejadian perburuan itu terjadi. Namun, tidak ada yang dapat mengatur takdir selain pemilik seluruh alam. Mau disesali terus-menerus, orang tua Acho tetap tidak akan kembali pulang ke rumah dan kembali hidup Bersama karena sosoknya telah tiada.

Kini Acho harus menerima kenyataan pahit, bahwa ia akan hidup sebatang kara di rumah yang sepi tanpa riuh dari kedua orang tuanya. Acho adalah seorang anak tunggal, kawan-kawannya tinggal cukup jauh dari kediamannya, saudara-saudaranya pun demikian. Ia terpaksa menghadapi masa sulit itu sendirian tanpa bantuan siapa pun.

Editors’ Pick

Perayaan Imlek tinggal menghitung hari, namun Acho tidak ingin hari berlalu dengan cepat sebab perayaan Imlek hanya akan meninggalkan kepedihan di dalam hatinya.

Memang perayaan Imlek biasanya dilakukan bersama keluarga dan orang-orang tersayang lainnya, sehingga suasana hangat dan gembira bisa menyertai semuanya. Namun, apa jadinya jika Acho harus merayaan Imlek ini sendirian?

Membayangkannya saja Acho sudah tidak kuasa. Ia pun berharap agar waktu tidak lagi berjalan, sehingga ia tidak perlu merayakan Imlek.

Hari perayaan Imlek pun tiba, semua orang suka cita menyambutnya. Segala hiasan, makanan serta hal lain yang dirasa bisa memeriahkan Imlek turut disiapkan. Setiap naga pun telah berkumpul bersama keluarganya, terkecuali Acho yang memilih mengurung diri di rumah.

Acho tidak kuasa melihat kemeriahan Imlek di luar sana, sebab hal tersebut hanya akan memantik ingatan tentang orang tuanya. Air mata Acho mengucur deras seolah sudah tidak dikeluarkan berhari-hari. Acho pun tidak berharap banyak pada perayaan Imlek tahun ini. Harapan terbesarnya adalah perayaan Imlek ini segera berlalu, sehingga ia tidak lagi perlu merasa kesepian.

Tidak ada hal yang dilakukan oleh Acho selain berdiam diri sambil mengingat kenangan bersama orang tuanya. Rasa kesepian ini membuatnya sulit untuk melanjutkan hidup, karena bayang-bayang mendiang orang tuanya selalu muncul.

Baginya perayaan Imlek kali ini tidak ada yang spesial sama sekali, justru paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Acho pun berulang kali menyumpahi dirinya sendiri sebagai bentuk penyesalan akibat kepergian orang tuanya.

Namun, tiba-tiba saja engsel pintu rumah Acho berbunyi dan perlahan-lahan terbuka. Sontak Acho kaget, sebab tidak ada yang berkunjung ke rumahnya beberapa hari terakhir. Ternyata, kawan-kawannya dari daerah lain hadir untuk mengunjungi Acho.

Ketiga kawannya yang baru melewati ambang pintu segera berlari menuju posisi Acho yang sedang meringkuk di sudut ruangan. Mereka pun langsung memeluk Acho yang masih menitihkan air mata. Acho kaget sekaligus terharu dengan kehadiran kawan-kawannya. Acho hanya mengangguk tidak kuasa menahan haru, karena kedatangan temannya. Bahkan, mulutnya tidak mampu mengucapkan kata-kata saking terharunya.

Kehadiran teman-temannya di momen spesial ini sangat berarti untuk Acho, lantas Acho pun menjadikan momen ini kenangan yang sangat berharga. Ia akhirnya mendapatkan Pelajaran, bahwa definisi keluarga itu sangatlah luas. Keluarga bukan hanya berasal dari garis keturunan saja, namun juga dapat berasal dari pertemanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *