| by teloletom | No comments

Pemuda Dan Seruling Ajaib

Di zaman dahulu kala, ada sebuah negeri kecil yang sangat makmur di kaki bukit yang bernama negeri Hamelyn. Negeri yang kaya akan kekayaan alam dan subur, membuat rakyat negeri itu hidup dalam kemakmuran dan bergelimang harta. Hal itu membuat negeri tersebut di kenal sebagai negeri terkaya di banding negeri lain yang menjadi tetangganya.

Walau negeri Hamelyn sangat kaya dan makmur, tapi ada kebiasaan buruk yang dilakukan penduduk negeri itu. Mereka suka membuang sampah sembarangan, sehingga banyak sampah yang berserakan dan menumpuk di sembarang tempat. Akibatnya, kebiasaan buruk tersebut membuat tikus-tikus berkembang biak. Semakin lama, populasi tikus semakin tidak terkendali. Tikus pun banyak berkeliaran di rumah penduduk dengan bebas. Kabar mengenai wabah tikus yang menimpa negeri Hamelyn ini terdengar juga hingga ke negeri tetangga.

Tentu saja hal tersebut menjadikan para penduduk negeri hamelyn yang terkenal kaya itu menjadi malu, tidak terkecuali sang raja. Berbagai cara telah di lakukan untuk mengendalikan wabah tikus itu. Mulai dari memelihara kucing, hingga memasang perangkap tikus. Karena jumlah populasi tikus yang terlanjur banyak, membuat usaha tersebut sia-sia tanpa hasil.

Hal tersebut membuat raja dan penduduk negeri Hamelyn hampir putus asa. Hingga pada akhirnya sang raja dan para penduduk melakukan musyawarah. Mereka sepakat untuk mengadakan sebuah sayembara. Siapa yang mampu mengusir tikus dari negeri mereka, maka tiap penduduk akan memberikan dua keping uang emas dan sang raja akan memberi satu kantong uang emas. Kabar sayembara itupun mulai di sebarluaskan hingga ke wilayah negeri tetangga.

Banyak orang yang mengikuti sayembara tersebut, karena tertarik dengan hadiah yang di janjikan. Mereka menggunakan berbagai cara dan beraneka ragam alat jebakan untuk mengusir para tikus dari negeri Hamelyn. Tapi, hasil yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan harapan. Semua cara dan metode yang mereka gunakan gagal, hal tersebut membuat raja dan rakyat Hamelyn hampir kehilangan harapan.

Hingga pada suatu hari, datanglah seorang pemuda dengan pakaian lusuh menemui raja. Dia berkata, bahwa dia sanggup mengusir seluruh tikus itu dari negeri Hamelyn. Sang raja dan rakyat Hamelyn memandang ragu pada pemuda miskin itu. Mereka berpikir bagaimana mungkin pemuda yang miskin dan lusuh itu mampu menghalau para tikus, sedangkan para ahli pemburu saja gagal.

Karena tidak ada pilihan lain, ahirnya sang raja dan rakyat Hamelyn memberi kesempatan pada pemuda itu untuk mengusir tikus dari negeri Hamelyn. Kemudian pemuda itupun pergi untuk mulai melakukan tugasnya.

Pemuda itu kemudian mengeluarkan sebuah seruling dan meniupnya. Alunan seruling yang terdengar begitu indah, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi terlena. Ajaibnya, para tikus datang dari berbagai tempat dan berkumpul mengelilingi anak lelaki itu karena mendengar alunan seruling yang dimainkannya.

Siapa sangka, seruling yang dibawa oleh anak lelaki itu sungguh ajaib. Pemuda yang masih sangat belia itu mulai berjalan perlahan, dan  diikuti para tikus yang berjalan berbaris di belakangnya. Tikus-tikus itu seakan terhipnotis oleh irama seruling yang di mainkan oleh anak lelaki itu.

Kemudian, sampailah anak itu di sungai yang mengalir cukup deras. Sambil terus memainkan serulingnya, anak itu menceburkan dirinya ke dalam sungai. Dan anehnya para tikus itu tetap mengikutinya. Karena tidak bisa berenang, semua tikus itu pun hanyut terbawa arus sungai.

Setelah semua tikus hanyut, tugas anak lelaki itu selesai dan kembali menemui raja Hamelyn. Dia berniat menagih janji tentang upah yang ditawarkan dalam sayembara. Tapi ternyata, raja dan rakyat Hamelyn sepakat untuk mengingkari janji. Mereka tidak mau membayar anak lelaki itu dengan alasan anak itu tidak melakukan apa-apa. Dia hanya meniup seruling, dan banyak orang juga yang dapat melakukanya.

Setelah sang raja dan rakyat Hamelyn mengingkari janjinya, si anak lelaki itu menjadi sangat marah. Dia sakit hati karena merasa di tipu dan semua usahanya tidak di anggap.

Akhirnya, anak lelaki itu kembali meniup seruling ajaibnya, dan keajaiban kembali terjadi. Para anak-anak di seluruh negeri Hamelyn datang dan berkumpul mengelilingi anak itu. Lagu yang riang seakan menghipnotis anak-anak negeri Hamelyn untuk mengikuti kemana musik nan merdu itu terdengar. Dan anak lelaki itu kemudian berjalan keluar dari negeri Hamelyn di ikuti oleh para anak-anak Hamelyn di belakangnya. Tentu saja hal tersebut membuat para orang tua mereka panik ketika mengetahui anaknya tidak ada di kamar mereka. Tidak terkecuali sang raja, karena sang pangeran juga ikut terhipnotis oleh irama merdu seruling ajaib itu.

Sang raja dan rakyatnya pergi mengejar anak lelaki berseruling ajaib itu, dan mereka berhasil mengejar hingga perbatasan. Sang raja dan rakyat Hamelyn memohon agar anak lelaki itu mau mengembalikan anak-anak mereka. Mereka akan menyerahkan hadiah yang di minta anak lelaki itu, bahkan akan di tambah 3x lipat.

Tapi anak lelaki itu tidak menghiraukan. Dia tetap berjalan dan di ikuti oleh anak-anak Hamelyn di belakangnya. Rasa sakit hatinya karena penghianatan raja dan rakyat Hamelyn sungguh dalam. Konon, anak itu terus berjalan hingga masuk pada sebuah goa. Dan ketika semua anak-anak telah masuk ke dalam goa, goa itu menghilang tanpa bekas.

Hal tersebut membuat seluruh rakyat Hamelyn sangat bersedih. Duka cita menyelimuti negeri yang kaya itu. Para rakyat Hamelyn sangat menyesali perbuatan mereka. Karena perbuatan mereka yang mengingkari janji, membuat anak-anak mereka menanggung akibatnya. Tapi, sesal kemudian tiada artinya. Sejak hari itu, seluruh rakyat Hamelyn bertekad bahwa mereka tidak akan pernah mengingkari janji lagi, dan hal tersebut masih di pegang teguh hingga saat ini