| by teloletom | No comments

Prajurit Dan Cahaya Biru

Pada jaman dahulu kala, ada seorang prajurit yang telah melayani Raja dengan setia selama bertahun-tahun. Namun, saat perang berakhir dia tidak mampu melayani lagi akibat banyak luka yang dia derita.

Kemudian Sang Raja berkata kepadanya, “Kamu boleh kembali ke rumahmu, aku tidak membutuhkanmu lagi, dan kamu tidak akan menerima uang lagi, karena Saya hanya membayar upah bagi mereka yang melayani saya.”

Prajurit itu lalu pergi meninggalkan istana dengan susah payah, dan berjalan sepanjang hari. Seluruh hidupnya dia abdikan sebagai prajurit untuk melayani Raja, sehingga dia tahu bagaimana cara mencari uang untuk mencukupi kehidupannya.

Saat malam hari, dia memasuki hutan. Saat malam semakin gelap, dia melihat ada cahaya dari sebuah rumah. Dia kemudian menghampiri rumah itu, yang ternyata rumah seorang penyihir.

“Beri aku penginapan satu malam, dan sedikit untuk makan dan minum, atau aku akan kelaparan,” ucap si Prajurit pada pemilik rumah.

Si Penyihir pun menjawab, “Baik aku akan membantumu, jika kamu mau melakukan apa yang saya inginkan.”

“Apa yang kamu inginkan? ” kata prajurit itu.

“Aku ingin kamu menggali seluruh kebunku, besok,” kata pemilik rumah.

Prajurit itu setuju, dan hari berikutnya dia bekerja dengan sekuat tenaga. Dia baru berhenti bekerja saat hari menjelang malam.

“Saya melihat pekerjaan anda cukup baik. Saya akan menahan Anda satu malam lagi, anda boleh beristirahat disini dan mendapatkan makan malam, sebagai bayaran Anda harus membantu saya memotong setumpuk kayu, dan membuatnya kecil.” Kata penyihir.

Prajurit itu menghabiskan sepanjang hari untuk melakukannya, dan pada malam hari penyihir itu mengusulkan agar dia menginap semalam lagi.

“Besok, saya hanya akan memberi anda pekerjaan yang sepele. Di belakang rumah saya, ada sumur tua kering, di mana cahaya milik saya telah jatuh, menyala biru, dan tidak pernah padam. Anda hanya harus membawanya lagi untuk saya.” Kata si penyihir.

Hari berikutnya wanita tua itu membawa si Prajurit ke sumur, dan menurunkannya ke dalam sumur menggunakan keranjang yang diikat. Si Prajurit itu menemukan cahaya biru, dan memberi tanda kepada si penyihir untuk menariknya kembali.

Si penyihir memang menariknya, tapi saat dia mendekati tepi si penyihir mengulurkan tangannya dan ingin mengambil cahaya biru dari si Prajurit.

“Tidak! Aku tidak akan memberimu cahaya ini sampai aku berdiri dengan kedua kaki di atas tanah.” Kata si prajurit yang mengetahui niat buruk si penyihir.

Penyihir itu menjadi marah dan melepaskan pegangannya pada tali, dan pergi. Prajurit yang malang itu pun jatuh kembali kedalam sumur. Tubuhnya menghantam dasar sumur, namun karena tanahnya yang lembab, tubuhnya tidak mengalami luka sedikitpun.

Cahaya biru ditangannya masih menyala, tetapi tidak tahu apa gunanya. Dia melihat dia tidak akan bisa keluar dari sumur tua itu. Dia duduk beberapa saat dengan sangat sedih, kemudian dia meraba sakunya dan menemukan pipa tembakaunya, yang masih setengah penuh.

“Ini akan menjadi kesenangan terakhir saya,” pikirnya, menariknya keluar, menyalakannya di cahaya biru dan mulai merokok.

Ketika asap mulai mengelilingi sumur, tiba-tiba muncul kurcaci hitam kecil berdiri di hadapannya, dan berkata, “Tuan, apa perintah-Mu?”

“Perintah apa yang harus kuberikan kepadamu?” jawab prajurit itu.

“Saya akan melakukan semua yang Anda minta,” kata kurcaci kecil itu.

“Bagus. Pertama, bantu aku keluar dari sumur ini.” Kata si prajurit.

Kurcaci kecil itu memegang tangannya, dan membawanya keluar melalui lorong bawah tanah. Dalam perjalanan, kurcaci itu menunjukkan harta yang telah dikumpulkan dan disembunyikan oleh si penyihir itu di sana. Kemudian, prajurit itu mengambil emas sebanyak yang dia bisa bawa. Saat dia sudah keluar, dia berkata kepada kurcaci kecil itu, “Sekarang pergi dan ikat penyihir tua itu, dan bawa dia ke hadapan hakim.”

Secepat kilat kurcaci kecil itu pergi, dan tidak lama dia muncul kembali.

“Semuanya sudah selesai, dan penyihir itu sudah tergantung di tiang gantungan. Perintah selanjutnya apa yang dimiliki Tuanku? ” tanya kurcaci itu.

“Saat ini, tidak ada. Kembalilah ke rumahmu, dan aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan bantuan.” Jawab si prajurit.

“Kamu harus menyalakan pipamu pada cahaya biru, dan aku akan muncul di hadapanmu segera.” Pesan kurcaci itu sebelum pergi.

Setelah itu, si prajurit kembali ke kota tempat dia berasal. Dengan emas yang dia bawa, dia membeli rumah dan lahan pertanian. Sisa masa hidupnya, dia hidup bahagia di sana.