
Pada zaman dahulu kala, di tepi hutan sebuah desa ada satu raksasa yang serakah bernama Drogo. Ia suka sekali makan buah dan ternak milik penduduk desa. Seperti buah pisang, papaya, mangga. Tidak hanya satu butir atau satu keranjang, namun Drogo melahap satu ladang buah-buahan yang ada itu.
Drogo juga suka makan ayam, kambing, bebek, domba. Tidak hanya satu ekor atau sepuluh ekor, namun Drogo melahap satu peternakan. Drogo juga suka menakut-nakuti anak-anak desa sampai mereka lari ketakutan sambil menangis.
Di desa itu, ada seorang anak lelaki pemberani bernama Gada. Suatu hari, Gada mulai kesal dan bosan dengan tingkah Drogo. Gara-gara Drogo, anak-anak jadi takut bermain di luar. Warga desa juga jadi hidup miskin, karena hasil ladang dan ternak mereka habis dimakan Drogo.
Sambil membawa sebuah tas selempang, Gada datang ke hutan tempat Drogo tinggal. Setiba di dekat Drogo, Gada bertelak pinggang dan memelototi Drogo. Gada menyuruh Drogo agar berhenti berbuat jahat, atau dia akan diusir dari hutan itu.
Drogo yang mendengar ucapan Gada pun terkejut melihat keberanian anak itu, lalu ia membalas memelototi Gada. Drogo yang tidak takut lalu mengancam Gada, bahwa ia akan melahap Gada sebelum sempat mengusirnya.
Gada yang pemberani pun tidak takut, namun justru membalas ancaman Drogo. Daga mengancam, bahwa Drogo akan sakit perut parah jika memakannya. Daga pun berkata, bahwa dia memiliki ilmu sihir yang dapat membuat Drogo menderita sakit perut yang sangat parah.
Dengan cepat Drogo menangkap Gada, lalu memasukkan Gada ke mulutnya. Namun Drogo sangat terkejut, karena ia tidak mendengar teriakan ketakutan Gada. Gada justru tertawa keras sambil meluncur turun di tenggorokan menuju perut Drogo.
Drogo pun heran, mengapa saat ditelan Gada justru tertawa. Drogo pun mulai berpikir, bahwa Daga memang mungkin memiliki ilmu sihir yang dapat membuatnya sakit perut. Drogo lalu berbaring tidur sambil bersender di bukit batu.
Sementara itu, Gada mulai sibuk di dalam perut Drogo. Gada ternyata membawa banyak sekali bungkusan bubuk permen letup yang dia simpan tas selempangnya. Di desa Gada, memang sedang ada permen model baru. Permen itu dibeli pemilik warung di kota besar. Permen itu berbentuk bubuk rasa buah. Jika diletakkan di lidah dan basah dengan air liur, permen itu akan meletup letup membuat mulut geli.
Anak-anak desa suka sekali makan permen itu. Tadi pagi, Gada menceritakan rencananya melawan Drogo pada teman-temannya. Akhirnya semua anak desa menyumbangkan persediaan permen letup mereka pada Gada sebagai senjata. Gada mendapat sumbangan hampir seratus bungkus permen letup, bahkan Gada juga mendapat pinjaman pelindung kepala dari anak pak kepala desa.
Di perut Drogo, Gada mengambil bungkusan permen letup dari tas selempangnya dan membuka semua bungkusan permen itu satu persatu. Bubuk permen letup yang ditabur Gada di perut Drogo, kini mulai bereaksi. Semakin banyak permen letup yang ditabur, semakin besar letupan di perut Drogo raksasa.
Drogo yang sedang tertidur pun kini bangun, karena dia merasa seperti ada petasan di dalam perutnya. Drogo segera berdiri sambil memegang perutnya, karena letupan di perut Drogo semakin besar. Drogo segera berlari ke tepi danau untuk minum. Saat menunduk di tepi danau, Drogo merasa ingin bersendawa.
Drogo pun bersendawa dengan suara yang keras, dan bersamaan dengan itu Gada ikut terlempar keluar. Gada pun tercebur ke danau, dan ia segera sembunyi di balik daun-daun teratai yang menutupi permukaan danau.
Drogo tidak memerhatikan, bahwa Gada sudah terlempar keluar dari perutnya. Permen-permen yang ada di perut Drogo pun masih terus meletup, dan Drogo pun mulai berpikir bahwa Gada memang seorang penyihir dan sudah menyihir perutnya dengan banyak petasan. Drogo lalu segera minum air danau sebanyak-banyaknya.
Namun, semakin banyak air masuk bubuk permen letup itu semakin meletup di perut Drogo. Drogo akhirnya pergi lari dari tempat itu, bahkan ia tidak berani lagi datang ke desa itu. Drogo kini tidak mau lagi tinggal di tepi hutan itu, dan ia takut jika sihir di perutnya semakin parah.
Setelah melihat Drogo pergi menjauh, Gada keluar dari persembunyiannya dan kembali ke desanya dengan wajah berseri. Tahu bahwa Daga sudah berhasil mengusir Drogo, teman-teman dan warga desa pun menyambutnya dengan gembira.