| by gas pol | No comments

Rama & Shinta: Kisah Cinta Atau Tragedi?

 

Cerita-rakyat.web.id – Kali ini kami akan membahas tentang kisah Rama dan Shinta yang dianggap sebagai kisah cinta abadi yang patut dibanggakan.

Mungkin, bagi sebagian orang kisah cinta Rama dan Shinta merupakan sebuah romansa yang patut disanjung. Bagi sebagian yang lain, kisah cinta Rama dan Shinta tidak patut di contoh. Yuk kita kupas semua disini.

Kamu semua pasti tahu latar belakang Rama dan Shinta kan? Rama memenangkan cinta Shinta dalam sayembara. Lalu, mereka menikah dan mereka diasingkan oleh ibu tirinya Rama yang mengingini anaknya yang akan mendapatkan tahta Raja.

Singkatnya, ketika Rama dan Shinta mengasingkan diri dari Kerajaan Ayodya, Shita diculik oleh Rahwana yang sudah mencintai Shinta dan ingin memperistrinya. Pebinor memang!

Untuk beberapa tahun, Shinta disekap oleh Rahwana dan dirayunya untuk dipersunting. Yang lebih menarik adalah Rahwana tidak pernah menyentuh Shinta sama sekali. Ya, ia tetap mengejar cinta Shinta, tetapi tidak satu kalipun ia berbuat yang jahat terhadap wanita yang dikasihinya itu. Yang ia perbuat adalah membuat alunan cinta, memberinya kenyamanan, berteman dengannya, dan memanjakannya di istana yang megah.

Tahun berganti tahun. Shinta tetap pada pendiriannya, ia tidak bergeming sebagaimanapun Rahwana menyanjungnya. Ia adalah istri dari Rama, dan ia akan setia kepada Rama sampai akhir hayat.

Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya Rama berhasil menyerang kerajaan Rahwana dan membunuh Rahwana dibantu oleh Hanoman, panglima Kerajaan Ayodya. Shinta kembali kepada Rama, suaminya.

Apa yang dilakukan oleh suaminya? Oleh karena cibiran rakyat, ia mengasingkan Shinta. Dua kali. Yang pertama ketika ketika Shinta mengandung anaknya, dan yang kedua karena ia merasa ragu bahwa anak-anak yang Shinta lahirkan bukanlah anak-anak kandungnya. Dan keduanya disebabkan oleh cibiran rakyat.

Hanya karena diragukan oleh rakyat, Shinta juga rela memasuki bara api yang panas hidup-hidup hanya karena ia ingin membuktikan kesuciannya belum diambil oleh Rahwana.

Apa yang dilakukan Rama ketika Shinta memasuki bara api hidup-hidup? Diam.

Rahwana menangis ketika ia melihat Shinta menjalankan ritual pati obong. Ia merasa bersalah. Ia menjerit. Hatinya remuk. Ia merasa terlambat menolong pujaan hatinya.

Tidakkah Rama ingat selama belasan tahun ia hidup di pengasingan ditemani oleh Shinta yang terus berusaha membahagiakannya? Apa ia melupakan semua perjuangan Shinta? Apa ia lupa semua pengorbanan Shinta untuknya?

Mari kita berpikir balik tentang kisah ini. Apakah cinta Rama terhadap Shinta bisa dibilang cinta yang suci? Ketika Shinta disekap selama belasan tahun lamanya, ia baru bertindak. Ketika Shinta dicibir, ia tidak membela tetapi malah mengasingkan istri yang ia ‘cintai’.

Cintai? Ketika kita mendefinisikan cinta di dalam kisah ini, tidak ada satupun wanita yang mau dicintai dengan cara seperti ini.

Banyak orang mengatakan “cara mencintai setiap orang berbeda-beda”. Ketika cinta tidak dilandasi oleh kepercayaan, apakah itu masih disebut cinta? Ketika cibiran orang membuatmu ragu terhadap orang yang kamu kasihi, apa itu masih bisa disebut cinta?

Rahwana tewas karena cintanya terhadap Shinta. Hati Shinta hancur berkeping-keping karena ‘cinta’ Rama terhadapnya. Dan Rama hancur karena ia menyesali perbuatannya yang tidak melindungi Shinta dan malah menyakiti hatinya tanpa henti.

Penyesalan Rama pun datang ketika Shinta tewas ditelan bumi. Terlambat. Semua sudah terlambat.

Kisah ini mengajari bahwa apa yang terlihat buruk di depan bukan berarti buruk sepenuhnya. Apa yang kita pikir baik juga tidak selalu baik.

Cinta sejati? Untuk apa kamu berkata cinta tetapi kamu tidak mempercayai orang yang kamu cintai?

Cinta memang indah. Tapi cinta juga bisa menghancurkan… seperti Rama menghancurkan Shinta.

Setelah mendapatkan perspektif ini, apakah kamu masih berpikir bahwa Rama benar-benar mencintai Shinta?

Kisah Rama-Shinta ini… apakah pantas kita sebut sebagai kisah cinta? Atau tragedi?