| by teloletom | No comments

Sedna, Dewi Air Dari Inuit

Sedna yang merupakan wanita Inuit cantik, namun kini telah menjadi dewi laut. Sedna tinggal bersama ayahnya di desa Inuit. Mereka hidup dengan bahagia, namun selama bulan musim dingin, mereka sulit untuk mencari makan.

Walau rumahnya kecil, tapi nyaman untuk ditinggali. Namun, ayah Sedna sangat mencintai putrinya itu, karena sering dipuji Sedna menjadi egois. Hampir sepanjang hari musim dingin, bukannya membantu ayahnya berburu dan memancing, dia lebih memilih duduk di dekat es dan terpesona oleh bayangannya sendiri.

Ketika tiba saatnya baginya untuk menikah dengan pria, Sedna menolak. Dia menganggap dirinya terlalu cantik dan terlalu istimewa untuk menikah. Walau banyak pria yang datang ke desa mereka untuk mencari istri, Sedna tidak berminat. Dia menyembunyikan diri, terkunci dalam pandangan bayangannya yang dingin.

Namun, jaman menjadi semakin susah. Kecepatan angin di musim dingin bertambah kencang setiap tahunnya, perburuanpun menjadi lebih susah hingga stok makanan pun kurang. Ayah Sedna mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua.

Akhirnya suatu hari, dia membuat keputusan yang dia harap akan menyelamatkan nyawa putrinya, dan nyawanya sendiri. Dia meminta Sedna untuk menikah dengan seorang pria yang akan datang ke desa mereka. Karena Sedna sangat cantik, ini pun akan menjadi tugas yang mudah baginya. Walau sang ayah sangat sedih karena harus berpisah dengan Sedna, namun sang ayah sudah tidak sanggup memberi makan dua mulut.

Saat aada seorang lelaki datang ke desa mereka, Sedna dengan sedih mengikuti perintah ayahnya untuk menikah dengan lelaki tersebut. Dia menjanjikannya kehidupan yang kaya dan banyak makanan. Ayah Sedna sangat bahagia sehingga dia tidak peduli seperti apa lelaki berjubah itu, karena wajahnya benar-benar tertutup.

Ketika Sedna berbaring untuk tidur, malam sebelum pasangan itu ditetapkan untuk pergi ke desa pria berjubah itu, pria itu menyelipkan serum tidur ke dalam gelas. Saat paginya Sedna bangun, dia minum airnya dan mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya serta berjanji untuk mengunjunginya sesering mungkin. Begitu sedna meninggalkan rumah masa kecilnya, serum tidur itu mulai bereaksi dan pandangan Sedna menjadi gelap dan tertidur.

Saat Sedna terbangun, dia mendapati dirinya berada di puncak tebing besar menghadap ke laut. Dia kaget mengetahui Sedna lelaki berjubah itu bukanlah seorang manusia, namun dia merupakan seekor gagak hitam besar.

Sedna pun mulai menangis karena hidupnya kini sengsara. Dia tidak punya bantal atau selimut yang lembut, tidak ada air rebus untuk diminum, dan tidak ada ayah yang selalu menemaninya, ditambah sang gagak tidak memiliki simpati sama sekali terhadap Sedn. Walaupun dia membawa ikan mentah setiap hari, dia mengejek dan tertawa melihat kesedihan Sedna.

Sang gagak memiliki sarang yang besar untuk tidur, tetapi Sedna hanya diberikan beberapa bulu untuk menghangatan tubuhnya. Saat angin menerpa, Sedna meringis kesakitan karena dinginnya udara. Dia menangis setiap hari setiap malam, dengan harapan ayahnya akan datang menyelamatkannya.

Angin musim dingin yang tajam telah membawa tangisannya ke desanya. Sang ayah Sedna pun diliputi dengan rasa bersalah karena sudah memaksa Sedna untuk menikahi orang asing. Sang ayah pun kemudian memutuskan untuk menyelamatkan Sedna, dia mulai mendayung mengikuti suara tangisan Sedna.

Saat dia tiba, dia terkejut menemukan situasi kehidupannya yang tinggi di atas tebing yang menghadap ke laut. Dia menyurug Sedna untuk melompat dari tebing ke kapalnya. Untungnya, dia datang pada waktu yang tepat, karena sang gagak sedang pergi berburu ikan untuk diberikan kepada Sedna.

Sedna melompat ke kapal ayahnya dan duduk dengan erat ketika ayahnya mengayuh secepat mungkin. Saat Sedna melihat titik hitam di kejauhan, dia mulau gemetar ketakutan. Dia tahu bahwa suaminya sedang mencarinya. Kapal itu sekarang di tengah lautan, bergoyang-goyang. Ayahnya kelelahan dan menghentikan kapalnya untuk beristirahat.

Tiba-tiba, kapal itu mulai bergerak maju mundur dengan keras. Sang ayah dan putrinya melihat ke belakang dan melihat sang gagak sedang mengepakkan sayapnya. Kepakan sayap burung gagak itu membuat air laut bergelombang. Sayap hitamnya yang besar tampak bertambah besar karena sangat marah.

“Kamu memutuskan untuk meninggalkanku, Maka kamu juga harus meninggalkan bumi ini! “ pekik sang gagak itu. Semakin keras dia mengepak, semakin kuat badai laut menerjang.

Ayah Sedna menyesal karena telah melakukan kesalahan saat mencoba menyelamatkan putrinya. Karena kelelahan, dia menangis sambil berkata, “Bawa dia! Silahkan! Dia tidak akan pernah meninggalkanmu lagi! “

Dengan ucapan tersebut, sang ayah mendorong Sedna ke laut. Dia mengangkat dayungnya di udara dan memanggil gagak, “Silahkan ambil dia, Bawa dia kalau kau bisa! “

Tubuh Sedna terasa sakit akibat suhu air samudera yang sangat dingin itu. Dia berteriak kepada ayahnya dan juga berteriak pada gagak.

Dalam usaha untuk tetap bertahan hidup, dia mencoba kembali ke perahu dengan sekuat tenaganya. Sang Ayah mengambil dayungnya dan mencoba menggenggam sekuat tenaganya, namun karena lautan telah membekukannya hampir kaku, akhirnya terlepas.

Sekali lagi, Sedna dalam upaya untuk hidup, dia melilitkan sikunya di sisi perahu. Namun, Ayahnya sekali lagi membanting dayungnya di lengannya, sang ayah berusaha mati-matian untuk menyelamatkan diri dari amarah badai sang gagak. Sang Sedna pun akhirnya tenggelam ke dasar laut.

Seperti ceritanya, sang Sedna bertanggung jawab atas semua badai yang terjadi di laut. Kemarahannya terhadap umat manusia disebabkan oleh pengkhianatan dari ayahnya. Hanya orang tertentu seperti seorang dukun yang cukup istimewa bagi Sedna, seorang Dukun harus melakukan perjalanan ke dasar laut untuk menyisir rambut hitam panjang Sedna yang kusut. Itulah yang menenangkan badai amarah sang Sedna.

Pemburu Inuit meminum air laut sebagai bentuk tanda hormat untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada sang Sedna, karena mengizinkan pemburu memberi makan keluarganya.