Tiga Wanita Penenun

Pada zaman dahulu kala, ada seorang gadis yang sangat malas dan tidak pernah mau menenun kain. Namun, ibunya tidak pernah dapat membujuk gadis tersebut untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ibunya menjadi sangat marah dan kehilangan kesabaran, bahkan mulai memukul anak gadisnya dengan keras.

Pada saat itu Ratu yang kebetulan lewat, berhenti di depan rumah gadis tersebut karena mendengar gadis itu menangis. Ratu kemudian masuk ke dalam rumah dan bertanya apa yang terjadi pada gadis itu dan mengapa ibunya memukuli anak gadisnya, sampai semua orang yang berada di jalan dapat mendengarkan gadis tersebut menangis.

Ibu gadis tersebut menjadi sangat malu untuk mengakui kemalasan anak gadisnya, sehingga dia berkata, bahwa dia tidak dapat menghentikannya menenun. Gadis itu selalu ingin mengerjakannya setiap waktu, dan ibunya terlalu miskin sehingga tidak dapat menyediakan bahan untuk ditenun yang cukup.

Kemudian Ratu menjawab, bahwa dia sangat senang mendengar suara roda alat pemintal. Ratu merasa senang mendengarkan mereka bersenandung, dan Ratu ingin membawa gadis itu ke istana. Ratu meimiliki banyak rami dan bahan tenun, sehingga gadis itu dapat memintal dengan hati gembira.

Ibu gadis tersebut sangat senang mendengarkan tawaran itu, dan Ratu pun kemudian membawa gadis tersebut bersamanya. Saat mereka mencapai istana, Ratu memperlihatkan tiga ruangan yang penuh dengan rami dan bahan tenun yang terbaik yang ada di kerajaannya.

Ratu lalu berkata, jika dia berhasil menyelesaikan tenunan dengan rami yang ada, maka dia akan dinikahkan dengan putra tertuanya.

Gadis itu ketakutan dalam hati, karena dia sama sekali tidak dapat menenun. Walau dia hidup seratus tahun dan duduk menenun setiap hari selama hidupnya dari pagi sampai malam, dia merasa tidak akan dapat menyelesaikannya. Saat dia sendirian dia mulai menangis, dan duduk selama tiga hari tanpa menyentuh alat tenun. Pada hari ketiga Ratu datang, dan saat Ratu melihat tidak ada satupun tenunan yang selesai Ratu lalu terkejut. Namun gadis tersebut beralasan bahwa dia belum bisa mulai menenun, karena dia masih bersedih akibat perpisahan dengan rumah dan ibunya. Alasan itu membuat Ratu menjadi tenang, tetapi saat Ratu akan beranjak pergi, Ratu mengatakan besok dia harus mulai menenun.

Saat gadis itu sendirian lagi, dia tidak dapat berbuat apa apa untuk menolong dirinya sendiri atau melakukan apapun yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam kebingungannya dia menatap keluar jendela, saat itu dilihatnya tiga orang wanita lewat di depannya. Wanita yang pertama memiliki kaki yang lebar dan rata, yang kedua mempunyai bibir yang tergantung turun sampai ke dagunya, dan yang ketiga memiliki ibu jari tangan yang sangat lebar. Mereka kemudian berhenti di depan jendela, dan mencoba bertanya apa saja yang gadis itu inginkan. Gadis itu menjelaskan apa yang dibutuhkannya, dan mereka berjanji akan membantunya, dan berkata bahwa dia harus mengundang mereka ke pesta pernikahannya, dan tidak malu atas kehadiran mereka, menyebut mereka sebagai sanak keluarga dan sepupu, serta diperbolehkan duduk satu meja dengannya. Mereka berjanji akan memenuhi hal ini, dan mereka akan menyelesaikan tenunan tersebut dalam waktu singkat.

Gadis itu pun berjanji akan memenuhinya , dan menyuruh mereka masuk. Lalu ketiga wanita itu masuk, dan mereka membersihkan sedikit ruangan pada kamar pertama untuk mereka agar mereka dapat duduk dan menempatkan alat tenun mereka. Wanita yang pertama menarik keluar benang dan mulai menapakkan kakinya ke tuas yang memutar roda alat tenun, wanita yang kedua membasahi benang, dan wanita yang ketiga memilin dan meratakannya dengan ibu jarinya diatas meja, perlahan-lahan gulungan-gulungan benang yang indah berjatuhan diatas lantai, dan ini menghasilkan tenunan yang sangat indah.

Gadis itu menyembunyikan ketiga wanita penenun itu dari pandangan mata sang Ratu, sehingga setiap kali Ratu berkunjung sang Ratu hanya melihat dia sendirian bersama tumpukan tenunan yang sangat indah. Saat kamar pertama sudah kosong, mereka mulai menenun di kamar kedua, lalu ke kama ketiga sampai semua rami telah selesai di tenun. Lalu saat ketiga wanita penenun itu akan pergi, mereka berkata pada sang Gadis agar tidak lupa dengan janjinya.

Saat sang Gadis memperlihatkan pada Ratu ruangan yang telah kosong, dan sejumlah besar tenunan, Ratu langsung mengatur pernikahan gadis itu dengan putranya yang tertua, dan mempelai pria itupun sangat senang karena mendapatkan calon istri yang sangat pandai dan rajin.

Gadis itu lalu berkata, bahwa dia memiliki tiga orang sepupu. Mereka sangat baik kepadanya, dan dia tidak akan pernah lupa kepada mereka disaat dia mendapatkan keberuntungan. Gadis itu ingin mengundang mereka datang ke pesta, dan meminta mereka duduk satu meja dengannya.

Ratu dan putra tertuanya yang akan menjadi calon suami berkata bersamaan, bahwa dia boleh mengundang mereka.

Saat perjamuan dimulai, ketiga wanita penenun tersebut datang tanpa menyembunyikan keburukan rupa mereka, dan sang Gadis berkata,

“Sepupuku yang baik, selamat datang.”

Mempelai pria pun menanyakan, bagaimana dia dapat memiliki keluarga yang sangat buruk rupa. Kemudian mempelai pria itu menemui wanita penenun yang pertama dan bertanya kepadanya, mengapa dia memiliki kaki yang begitu lebar dan rata. Wanita pertama pun berkata, bahwa dia selalu menapakkan kaki saya pada alat tenun.

Saat dia menemui wanita yang kedua dan bertanya, mengapa bibirnya bergantungan sampai ke dagu. Perempuan kedua pun mengatakan, bahwa dia sering menjilati benang.

Dan kemudian dia bertanya kepada wanita yang ketiga, mengapa dia memiliki ibu jari yang sangat besar dan leba. Wanita ketiga pun mengatakan, bahwa dia sering memuntir dan memilin benang.

Kemudian mempelai pria berkata bahwa semenjak saat itu, sang gadis yang menjadi istrinya ini harus berhenti untuk menenun dan jangan pernah menyentuh alat tenun lagi. Akhirnya, sang gadis lepas dari pekerjaan menenun yang melelahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *