Dikisahkan, ada seekor lutung yang berjalan terseok-seok di pasir. Akibat jatuh dari pohon, tubuhnya menjadi lemah tidak bertenaga. Ia merasa lapar, sementara hutan masih jauh. Dengan memaksa diri, ia tiba di tepi muara sungai dan minum dengan rakusnya.
Kemudian, ada seekor ayam hutan besar datang menegur si lutung. Ayam itu lalu bertanya kepada lutung, mengapa dia terlihat pucat.
Ayam itu lalu meminta tolong kepada ayam, agar membawanya terbang ke hutan di seberang muara. Ayam hutan pun merasa iba dan setuju, ia terbang membawa lutung yang berpegangan erat di kakinya.
Setibanya di hutan, lutung itu tidak mau melepaskan kaki ayam hutan. Bahkan, ia mencabuti semua bulu ayam hutan yang berwarna kuning keemasan itu. Sang ayam hutan pingsan karena kesakitan, lutung pun berpikir ayam itu sudah mati. Kemudian bangkai ayam hutan itu dia sembunyikan di dalam semak belukar, sementara ia pergi mencari api di dalam hutan.
Sang Ayam Hutan kemudian sadar, dan dia menangis tersedu-sedu sebab kehilangan semua bulunya. Sapi yang lewat dan melihat ayam itu pun kemudian bertanya, siapa gerangan yang teah mencabuti bulu-bulunya. Ayam hutan pun lalu menceritakan semua pengalamannya, dan sapi menjadi begitu marah terhadap perlakuan si lutung. Sapi pun lalu menyuruh ayam itu untuk bersembunyi, dan dia akan memberi pelajaran kepada si lutung. Ayam hutan pun menurutinya, dan segera bersembunyi.
Saat si lutung datang membawa obor dan menanyakan di mana ayam hutan, sapi membohonginya. Sapi itu berkata kepada lutung, bahwa ayam itu belum mati dan ia berenang ke tengah laut. Lutung kemudian meminta sapi mengantarnya ke gundukan batu karang di tengah laut, di mana ia mengira si ayam hutan bersembunyi. Dengan ramah sapi bersedia mengantarnya, dan tanpa pikir panjang lutung naik ke punggung sapi yang kemudian berenang ke gundukan batu karang di tengah laut.
Setelah lutung loncat ke gundukan batu karang itu, sapi pun segera pergi meninggalkannya. Lutung pun duduk di puncak batu karang dan menangis. Kemudian ada penyu yang datang dan bertanya, mengapa lutung menangis dan bagaimana dia dapat terdampar si tengah laut. Lutung pun berbohong, bahwa dia naik sampan, kemudian sampannya terbalik sehingga sia terdampar disini. Karena kasihan, penyu itu mengantarkan lutung ke pantai dengan naik ke punggung penyu.
Lutung pun lantas penasaran, bagaimana dia dapat berenang dengan cepat. Penyu itu lantas menjawab, dia berenang cepat dengan kayuhan kaki-kakinya. Saat di pantai, lutung ingin melihat kaki penyu. Penyu setuju dan segera tubuhnya dibalikkan oleh lutung, ternyata lutung segera meninggalkan penyu dalam keadaan terbalik. Ia bermaksud mencari harimau, karena hanya harimau yang dapat mengeluarkan daging penyu dari kulitnya yang keras itu.
Penyu pun menangis dan berteriak-teriak minta tolong. Teenyata, ada seekor tikus yang mendekat karena mendengar teriakan si penyu. Penyu itu lalu menceritakan pengalamannya kepada si tikus. Tikus yang mendengar pun mejadi sangat marah terhadap lutung, karena dia tidak tahu membalas budi itu. Ia lalu bersama tikus-tikus lain menggali pasir di bawah badan penyu, dengan harapan apabila air pasang naik penyu dapat membalikkan tubuhnya dengan mudah.
Sementara menunggu kedatangan lutung, tikus-tikus itu menutupi tubuh penyu dengan tubuh mereka sendiri. Dan menari-nari sambil bersyair, “Mari kita ikut gembira ria … bersama sang lutung yang jenaka … yang berhasil menipu Raja Rimba … yang mengira betul ada penyu, padahala hanya kita yang ada…”
Lutung yang datang bersama harimau sangat heran, karena penyu itu tidak ada. Mendengar syair tikus-tikus itu, harimau pun menjadi marah karena merasa ditipu oleh si lutung. Kemudian, lutung itu diterkam oleh sang harimau dan dibawa lari kedalam hutan.