Dikisahkan, ada sepasang suami istri tinggal bertetangga dengan taman yang dikelilingi tembok tinggi. Taman itu milik penyihir sakti bernama Dame Gothel. Suatu hari, sang istri yang sedang hamil muda melihat tanaman selada (Rapunzel/Rampion) yang tampak sangat segar dan hijau di taman penyihir itu.
Ia pun ngidam dan berkata pada suaminya, bahwa dia akan mati jika tidak memakan selada dari taman itu. Karena sangat mencintai istrinya, sang suami pun nekat. Malam harinya, ia harus berpikir cerdik dan mengendap-endap untuk memanjat tembok dan mencuri selada itu.
Setelah mengambil selada itu, istrinya pun memakannya dengan lahap. Tapi besoknya, ia ingin lagi, lagi, dan lagi. Sang suami pun memanjat untuk ketiga kalinya, namun kali ini Dame Gothel sudah menunggunya dengan wajah murka.
Sang suami memohon ampun dan menjelaskan kondisi istrinya, dan Gothel pun tersenyum licik. Gothel pun mengijinkannya untuk mengambil sebanyak apa pun, namun dengan syarat bayi yang lahir nanti harus dia serahkan padanya.
Karena ketakutan, sang suami setuju. Begitu bayi perempuan itu lahir, Gothel mengambilnya dan memberinya nama Rapunzel. Rapunzel tumbuh menjadi gadis tercantik di dunia dengan rambut emas yang sangat panjang dan halus seperti benang sutra. Saat usianya 12 tahun, Gothel mengurungnya di sebuah menara tinggi di tengah hutan. Menara itu tidak punya tangga atau pintu, hanya ada satu jendela kecil di puncak.
Setiap kali Gothel ingin berkunjung, ia akan berdiri di bawah menara dan berseru kepada Rapunzel agar mengulurkan rambutnya ke bawah. Rapunzel kemudian akan mengikat rambutnya pada pengait jendela dan menjatuhkannya ke bawah setinggi 20 hasta, kemudian Gothel pun memanjat naik menggunakan rambut itu. Rapunzel hidup dalam kesepian, hanya ditemani nyanyiannya sendiri yang merdu untuk menghibur diri.
Beberapa tahun kemudian, seorang Pangeran berkuda melewati hutan itu. Ia mendengar nyanyian merdu dari atas menara yang menyentuh hatinya. Ia ingin naik, tapi tidak menemukan pintu.
Setiap hari ia kembali untuk mendengarkan nyanyian itu, sampai suatu hari ia melihat Gothel datang dan berteriak pada Rapunzel untuk mengulurkan rambutnya.
Melihat cara Gothel naik, Pangeran tahu apa yang harus dilakukan. Besok malamnya, Pangeran meniru suara penyihir itu. Rambut emas pun turun, dan Pangeran pun memanjat naik. Awalnya Rapunzel sangat ketakutan, karena ia belum pernah melihat laki-laki seumur hidupnya. Namun, Pangeran bersikap sangat lembut dan memuji nyanyiannya. Akhirnya, mereka pun jatuh cinta.
Pangeran menawarkan untuk membawanya pergi, namun bingung caranya turun untuk turun.
Rapunzel yang cerdas pun mendapat ide, setiap kali dia datang pangeran harus membawakan Rapunzel gulungan benang sutra. Rapunzel akan menenunnya menjadi tangga, dan saat sudah jadi dia akan turun dan mereka dapat pergi melihat dunia.
Rencana itu hampir berhasil. Namun, Rapunzel yang polos melakukan kesalahan fatal. Suatu hari saat Gothel memanjat naik, Rapunzel tanpa sadar bertanya:
“Ibu Gothel, kenapa ya Ibu jauh lebih berat saat ditarik dibandingkan Pangeran yang datang sekejap mata?”
Rahasia pun terbongkar, dan Gothel murka luar biasa. Dalam kemarahannya, Gothel mengambil gunting dan memotong rambut panjang Rapunzel yang indah. Kemudian, Gothel membuang Rapunzel ke padang pasir yang tandus untuk hidup menderita.
Malam harinya, Gothel menunggu di menara. Saat Pangeran datang dan memanggil, Gothel menjatuhkan potongan rambut Rapunzel. Pangeran memanjat naik dengan semangat, tapi betapa terkejutnya ia saat yang ditemui bukan kekasihnya melainkan penyihir bermata nyalang.
Pangeran yang patah hati melompat dari menara untuk melarikan diri. Ia berhasil selamat, namun duri-duri di bawah menara menusuk kedua matanya. Pangeran pun akhirnya menjadi buta. Pangeran mengembara di hutan selama bertahun-tahun, memakan akar dan buah beri, sambil meratapi kehilangan kekasihnya. Takdir pun akhirnya membawanya ke padang pasir tempat Rapunzel tinggal.
Suatu hari, ia mendengar suara nyanyian yang sangat ia kenal dan berjalan tertatih-tatih menuju suara itu. Rapunzel melihatnya, langsung mengenalinya, dan memeluk lehernya sambil menangis.
Dua butir air mata Rapunzel jatuh ke mata Pangeran yang buta. Keajaiban pun terjadi, air mata tulus itu menyembuhkan mata sang Pangeran. Kini ia dapat melihat lagi seperti dulu.
Kemudian Pangeran pun membawa Rapunzel pulang ke kerajaannya, kehadiran mereka disambut dengan sukacita oleh seluruh penduduk kerajaan. Akhirnya mereka pun menikah, dan hidup bahagia selamanya bebas dari bayang-bayang menara.