Pada jaman dahulu kala, di daerah Gorontalo, ada pemuda yang tampan gagah perkasa bernama Limonu. Ayahnya tewas dalam sebuah peperangan saat ia berada di kandungan ibunya yang bernama Ohihiya. Oleh karena itu, sejak kecil ia dirawat dan didik oleh ibunya seorang diri. Saat beranjak dewasa, Limonu dimasukkan dalam perkumpulan silat di daerah itu. Di situ Limonu berhasil menguasai dasar ilmu silat.
Di suatu hari, ada kabar bahwa para tokoh atau pendekar silat dari daerah utara akan melakukan pertemuan di Benteng Otanaha. Dalam pertemuan itu, seorang pendekar silat terkenal bernama Hemuto akan menjajal ilmu silatnya sekaligus mengadakan upacara pengukuhan bagi para pendekar silat yang sudah tamat. Mendengar kabar itu, Limonu ingin datang ke pertemuan itu untuk berguru kepada Hemuto.
Keinginannya itu pun dia sampaikan kepada ibunya. Mendengar keinginan anaknya itu, dia pun terdiam sejenak. Mendengar nama Hemuto, dia kembali teringat pada suami dan putranya Paha yang telah meninggal. Trauma dengan peristiwa yang menimpa orang yang sangat dicintainya puluhan tahun lalu itu, sulit dia lupakan. Karena perasaan itu, ia tidak rela jika putra kesayangannya menjadi murid Hemuto. Di sisi lain, ia juga tidak ingin peristiwa itu diketahui oleh Limonu. Oleh karena itu, dia mencoba mencari alasan agar Limonu batal menghadiri pertemuan itu.
Walau ibunya telah berusaha mencegahnya, Limonu tetap ingin menghadiri pertemuan tersebut dan ingin menjadi murid Hemuto. Tekad keras Limonu itu tidak terbendung sehingga permaisuri Ohihiya harus merelakan keinginan putranya. Esok harinya, saat hari mulai petang, para tokoh silat mulai mendatangi tempat pertemuan di Benteng Otanaha. Sementara itu, Limonu yang baru datang pada saat pertemuan akan dimulai, masuk ke ruang pertemuan dan mencari duduk di sebelah saudara seperguruannya. Setelah duduk, ia mengamati satu per satu para tokoh silat dan para tamu undangan. Tiba-tiba Pak Hemuto mendatanginya dan menanyakan maksud tujuan kedatangannya ke acara itu.
Mendengar pertanyaan itu, Limonu pun menyampaikan maksud kedatangannya pada acara itu. Dirinya ingin berguru kepada Pak Hemuto. Hemuto hanya diam sambil memperhatikan Limonu dengan seksama. Ternyata, Pak Hemuto mengagumi fisik dan keberanian pemuda itu dalam beradu pandang dengan dirinya. Selama ini, ia jarang menemukan pemuda yang memiliki keberanian seperti itu. Oleh karena itu, Hemuto tertarik untuk menerimanya menjadi murid demi memperkuat pasukan berani mati yang akan dibentuknya. Akhirnya, pada kesempatan yang lain, Pak Hemuto mengungkapkan kesediaannya untuk menerima Limonu sebagai muridnya dengan harapan pemuda pemberani itu akan menjadi penerus kepemimpinannya. Alangkah senangnya hati Limonu karena keinginannya dipenuhi oleh Pak Hemuto. Sejak itu, Limonu menjadi murid Pak Hemuto.
Ia sangat tekun berlatih dan dengan cepat dapat menguasai semua ilmu yang diajarkan hingga akhirnya kemampuan ilmu silatnya menyamai gurunya. Hemuto pun semakin kagum pada keberanian dan kegigihan Limonu. Tidak heran jika Limonu dianggap sebagai murid kesayangan Hemuto. Suatu sore, ketika Limonu sedang asyik membersihkan keris peninggalan sang ayah di halaman rumah, ibunya tiba-tiba datang menghampirinya dan meminta Limonu untuk menyembunyikan kerisnya.
Setelah menyimpan keris itu, kemudian Limonu duduk di samping ibunya sambil menanyakan rahasia keris itu. Permaisuri Ohihiya pun menceritakan semua tentang ayah Limonu mulai dari kedudukannya sebagai penguasa di negeri itu hingga keinginannya menjadi raja di dua wilayah daratan yaitu Barat dan Utara.
“Saat kamu masih di dalam kandungan, ayahmu adalah penguasa negeri ini. Suatu ketika, ayahmu ingin menguasai daerah Utara yang berada di bawah kekuasaan Hemuto. Ibu sudah menasehatinya, namun ayahmu enggan mengurungkan niatnya sehingga terjadilah peperangan antara Barat dan Utara. Dalam pertempuran itu, ayahmu gugur dan menyusul kemudian kakakmu Paha yang pada saat itu sebagai pimpinan Pasukan Berani Mati.” Cerita ibu Limonu.
Limonu pun penasaran siapa yang telah membunuh ayah dan kakaknya. Permaisuri Ohihiya pun terdiam menghela nafas panjang, karena sungguh berat untuk memberitahukan hal itu kepada putra kesayangannya. Akhirnya, Permaisuri Ohohiya pun mengaku, bahwa orang yang telah membunuh ayah dan kakak Limonu adalah Pak Hemuto yang pada saat itu sebagai pemimpin pasukan Daratan Utara.
Limonu benar-benar tidak percaya terhadap peristiwa yang menimpa keluarganya. Di hatinya bertarung antara kewajiban membalas kematian ayah dan kakaknya atau kewajiban berbakti kepada gurunya. Bagi Limonu, kenyataan itu merupakan pilihan hidup yang sangat sulit untuk dipilih.
Setelah lama merenung, akhirnya ia memutuskan untuk menuntut balas walaupun harus melawan gurunya sendiri. Limonu seorang pemuda yang cerdik dan bijaksana, dia akan menuntut balas atas kematian ayahnya dengan caranya sendiri tanpa harus durhaka terhadap gurunya. Ia hanya ingin hidup damai dengan penduduk di sekitarnya dan sekaligus membela orang yang lemah. Dengan dalih inilah, Limonu kemudian membentuk pasukan berani mati dan melatihnya jurus silat tingkat tinggi.
Setelah membuat pasukan yang kuat, Limonu mengadakan pertemuan dengan para tokoh dan guru silat, termasuk gurunya Hemuto untuk memperkenalkan pasukannya. Pada pertemuan itu, ia juga bermaksud menanyakan langsung perihal kematian ayahnya kepada Pak Hemuto. Ketika gilirannya melaporkan mengenai keberadaan pasukannya, pada saat itu pula Limonu mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab sendiri oleh Pak Hemuto.
“Guru, andai seorang ayah gugur dalam pertempuran merebut kekuasaan, apakah si anak boleh meneruskan pertarungan itu untuk membalas kematian ayahnya?” Tanya Limonu.
Hemuto pun terkejut. Kini, ia menyadari bahwa Limonu adalah putra Raja Naha yang hendak menuntut balas atas kematian ayahnya.
Akhirnya, Limonu menantang gurunya untuk melanjutkan pertarungan itu. Tapi, sebelum pertarungan itu dimulai, ia menawarkan dua pilihan kepada gurunya, yaitu pertama mengadakan pertarungan tersebut dengan syarat pemenangnya berhak menguasai dua daratan tersebut. Pilihan yang kedua adalah Pak Hemuto harus menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada Limonu tanpa berperang. Penyerahan kekuasaan itu dianggap oleh Limonu sebagai penebus kematian ayah dan kakaknya.
Akhirnya, Pak Hemuto memilih syarat pertama karena ia tidak ingin kalah tanpa berperang sehingga harga dirinya tidak jatuh di hadapan orang banyak. Dalam sekejap, tempat pertemuan itu berubah menjadi arena perang antara pasukan Limonu dan Hemuto. Dalam peperangan itu, Hemuto dan pasukannya terdesak lalu melarikan diri. Namun, peperangan tersebut tidak berakhir sampai di situ. Suatu ketika, Hemuto dan pasukannya kembali menyerang dan mengepung Benteng Otanaha tempat pertahanan Limonu beserta pasukannya.
Namun, dengan taktik cerdiknya, Limonu dan pasukannya menggulingkan batu besar dari puncak bukit serta melempari batu ke arah pasukan Hemuto. Pada peristiwa tersebut pasukan Hemuto banyak yang tewas dan sebagian kabur melarikan diri karena dikejar sambil dilempari batu oleh pasukan Limonu hingga ke utara. Dengan demikian, maka Limonu kembali memenangkan peperangan melawan gurunya itu.