Dikisahkan, Silenus, satyr tertua yang kini sangat lemah tersesat di kebun anggur Raja Midas. Seseorang menemukannya berkeliaran tanpa daya, hampir tidak mampu berjalan, dan membawanya kepada raja. Dahulu kala, Silenus pernah menjadi pengasuh dan guru bagi dewa anggur kecil, Bacchus. Kini, karena Silenus telah tua, Bacchus pun merawatnya. Maka Raja Midas mengutus orang yang menemukannya untuk membawa satyr itu dengan selamat kepada Bacchus.
Sebagai balasan atas kebaikan ini, Bacchus berjanji untuk mengabulkan apa pun yang diminta Raja Midas. Raja Midas tahu betul apa yang paling diinginkannya. Pada masa itu, raja-raja memiliki perbendaharaan di istana mereka, yaitu tempat aman di mana mereka dapat menyimpan barang-barang berharga. Perbendaharaan Raja Midas berisi koleksi besar permata mewah, mangkuk perak dan emas, peti koin emas, dan barang-barang lain yang dianggapnya berharga.
Saat Midas masih kecil, ia sering memperhatikan semut-semut yang berlarian bolak-balik di atas pasir dekat istana ayahnya. Baginya, sarang semut itu seperti istana lain, dan semut-semut itu bekerja sangat keras membawa harta karun. Karena mereka berlarian ke sarang semut dari segala arah, membawa bungkusan-bungkusan kecil berwarna putih. Midas kemudian memutuskan bahwa ketika ia dewasa, ia akan bekerja sangat keras dan mengumpulkan harta karun.
Sekarang setelah ia dewasa dan menjadi raja, tidak ada yang lebih menyenangkan baginya selain menambah koleksi di perbendaharaannya. Ia terus-menerus merancang cara untuk menukar atau menjual berbagai barang atau membuat pajak baru bagi rakyat untuk dibayar dan mengubah semuanya menjadi emas atau perak. Bahkan, ia telah mengumpulkan harta karun dengan sangat tekun, dan selama bertahun-tahun, sehingga ia mulai berpikir bahwa emas kuning cerah di peti-petinya adalah hal yang paling indah dan paling berharga di dunia.
Jadi, saat Bacchus menawarkan apa pun yang dimintanya, pikiran pertama Raja Midas adalah perbendaharaannya, dan ia meminta agar apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Permintaannya pun dikabulkan, dan Raja Midas hampir tidak percaya akan keberuntungannya. Ia menganggap dirinya sebagai orang yang paling beruntung.
Saat permintaannya dikabulkan, ia kebetulan sedang berdiri di bawah pohon ek, dan hal pertama yang dilakukannya adalah mengangkat tangannya dan menyentuh salah satu rantingnya. Seketika ranting itu berubah menjadi emas yang sangat indah, dengan semua biji ek kecilnya tetap sempurna dan berkilau seperti biasanya. Ia tertawa penuh kemenangan, lalu menyentuh sebuah batu kecil di tanah. Batu itu berubah menjadi bongkahan emas murni. Kemudian ia memetik apel dari pohon, dan di tangannya apel itu berubah menjadi apel emas yang indah dan berkilau. Ia menganggapnya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, setelah itu ia menyentuh bunga lili yang berjajar di pinggir jalan. Bunga-bunga itu berubah dari putih bersih menjadi kuning cerah, tetapi menundukkan kepala lebih rendah dari sebelumnya, seolah-olah mereka malu dengan perubahan yang diberikan oleh sentuhan Raja Midas.
Sebelum mengubah lebih banyak benda menjadi emas, raja duduk di meja kecil yang telah dibawa para pelayannya ke istana. Jagungnya segar dan renyah, dan anggurnya berair dan manis. Tetapi begitu ia menggigit anggur dari salah satu tandan yang lezat itu, anggur itu berubah menjadi bola emas keras di mulutnya. Ini sangat tidak menyenangkan. Ia meletakkan bola emas itu di atas meja dan mencoba jagung, hanya untuk mendapati mulutnya dipenuhi logam kuning keras. Merasa seperti tersedak ia meminum air, dan saat menyentuh bibirnya, air itu pun berubah menjadi emas cair. Putrinya berjalan ke arahnya, lalu mulai berlari, dengan tangan terentang untuk memeluknya. Tetapi tepat saat tangannya meraihnya, ia pun telah menjadi patung emas. Tiba-tiba semua harta karunnya yang berkilauan mulai tampak jelek baginya, dan hatinya menjadi berat seolah-olah itu pun berubah menjadi emas.
Malam itu Raja Midas berbaring di bawah selimut emas yang indah, dengan kepalanya di atas bantal emas murni, tetapi ia tidak bisa beristirahat. Tidur tidak kunjung datang kepadanya. Saat berbaring di sana, ia mulai takut bahwa ratunya dan semua teman baiknya mungkin juga akan berubah menjadi patung emas yang keras. Ini akan lebih mengerikan daripada apa pun yang telah diakibatkan oleh keinginan bodohnya. Midas yang malang kini menyadari bahwa kekayaan bukanlah hal yang paling diinginkan dari semua hal. Ia sembuh selamanya dari kecintaannya pada emas. Begitu hari terang, ia bergegas menemui Bacchus dan memohon kepada dewa itu untuk mengambil kembali hadiah fatalnya.
Bacchus lalu berkata kepada Midas, jika dia yakin tidak ingin mengubah apa pun lagi menjadi logam itu, pergilah dan mandilah di mata air tempat sungai Pactolus bermula. Air murni mata air itu akan membersihkan Sentuhan Emas.
Raja Midas dengan senang hati menuruti perintah itu dan terbebas dari Sentuhan Emas seperti saat ia masih kecil mengamati semut. Namun, sihir aneh itu berpindah ke air mata air, dan hingga hari ini sungai Pactolus memiliki pasir keemasan.