Dikisahkan, ada seorang gadis kecil berambut emas keriting yang bernama Goldilocks. Ia adalah anak yang ceria, namun sangat keras kepala dan memiliki rasa ingin tahu yang tidak dapat dibendung. Suatu pagi, ibunya berpesan agar Goldilocks jangan main terlalu jauh ke dalam hutan karena dibsana banyak hewan liar.
Tentu saja Goldilocks tidak mendengarkan, bahkan ia mengejar kupu-kupu hingga masuk jauh ke dalam hutan. Saat tersadar, ia sudah tersesat. Namun bukannya takut, Goldilocks justru menemukan sebuah rumah kayu yang cantik di tengah pepohonan.
Ia mengintip dari jendela, namun tidak ada orang di dalam rumah. Kemudian ia mengintip dari lubang kunci, namun juga terlihat sepi tidak ada penghuni. Lalu ia mengangkat tuas pintu, dan ternyata pintu tidak terkunci. Tanpa ragu dan tanpa permisi, Goldilocks pun melenggang masuk.
Ternyata, rumah itu milik keluarga beruang yang sedang pergi jalan-jalan pagi menunggu bubur sarapan mereka dingin. Di meja makan, ada tiga mangkuk bubur dengan ukuran berbeda. Perut Goldilocks pun berbunyi, karena kelaparan dan mencoba makan makanan yang ada di meja.
Pertama ia mencicipi bubur di mangkuk besar milik Papa Beruang, namun terlalu panas. Kedua ia mencicipi bubur di mangkuk sedang milik Mama Beruang, namun terlalu dingin dan lengket. Ketiga ia mencicipi bubur di mangkuk kecil milik Bayi Beruang, dan kali ini rasanya pas. Begitu enaknya, Goldilocks memakan bubur itu sampai habis tidak bersisa.
Setelah kenyang, Goldilocks merasa lelah dan ingin duduk. Ia melihat tiga kursi di ruang tamu. Pertama ia mencoba duduk di kursi besar milik Papa Beruang, namun terlalu tinggi dan keras. Kedua ia mencoba kursi sedang milik Mama Beruang, namun terlalu empuk baginya. Ketiga ia mencoba kursi kecil milik Bayi Beruang, dan pas baginya.
Goldilocks duduk dengan nyaman, namun karena Goldilocks lebih berat dari Bayi Beruang kaki kursi itu patah. Goldilocks jatuh terguling ke lantai. Bukannya merasa bersalah karena merusak barang orang, ia malah bangkit dan mencari tempat lain untuk istirahat.
Goldilocks naik ke lantai atas menuju kamar tidur. Di sana berjejer tiga tempat tidur. Pertama ia mencoba kasur Papa Beruang, namun terlalu keras seperti batu. Kedua ia mencoba kasur Mama Beruang, namun terlalu lembek. Ketiga ia mencoba kasur Bayi Beruang, dan terasa nyaman.
Dalam hitungan detik, Goldilocks tertidur pulas tidak sadar bahaya sedang mendekat.Sementara itu, Keluarga Beruang pulang dari jalan-jalan lapar dan siap sarapan. Papa Beruang melihat sendoknya bergeser dan menggeram dengan suara besarnya ada yang menyentuh buburnya.
Mama Beruang melihat mangkuknya dan berkata ada yang menyentuh buburnya juga. Bayi Beruang melihat mangkuknya dan menangis, ada seseorang telah memakan buburnya dan menghabiskannya.
Mereka pun memeriksa ruang tamu. Papa Beruang berkata ada orang yang menduduki kursinya. Bayi Beruang juga berkata, ada orang yang menduduki kursinya dan mematahkannya sampai hancur.
Keluarga Beruang pun bergegas naik ke kamar tidur dan memeriksa kasur masing-masing. Papa Beruang berkata, ada orang yang sudah tidur di kasurnya. Mama Beruang juga berkata, ada orang yang tidur di kasurnya. Kemudian Bayi Beruang berteriak kencang, bahwa ada orang yang sedang tidur di kasurnya.
Teriakan Bayi Beruang membangunkan Goldilocks. Ia membuka mata dan melihat tiga wajah beruang menatapnya, satu marah, satu bingung, dan satu sedih. Sadar dirinya tertangkap basah, Goldilocks menjerit ketakutan. Ia melompat dari kasur, menerobos jendela yang terbuka, dan lari sekencang-kencangnya menembus hutan. Ia berlari tanpa menoleh lagi sampai tiba di rumah ibunya dengan napas tersengal-sengal.
Sejak hari itu Goldilocks belajar satu hal penting, yaitu jangan pernah masuk ke rumah orang lain tanpa izin, apalagi memakan bubur mereka.